Oleh: Ustadz Faqih Ubaidillah Rozan, Lc., Dipl.

Banyak mahasiswa baru al-Azhar yang merasa kewalahan ketika mulai mengikuti perkuliahan. Tidak sedikit yang kemudian bertanya-tanya: mengapa materi atau kitab yang dipelajari sejak tahun pertama sudah berada pada level yang cukup tinggi?
Sebagai contoh, mahasiswa jurusan Syari’ah sejak awal sudah dihadapkan pada kitab Nihayatu as-Sul dalam mata kuliah Ushul Fiqih. Kitab ini bukan sekadar literatur ushul fiqih tingkat lanjut yang dipenuhi dengan pembahasan dalil, analisis, dan berbagai bentuk i‘tiradh, tetapi juga menuntut penguasaan terhadap sejumlah ilmu seperti nahwu, sharf, manthiq, balaghah, hingga adab al-bahts.
Kondisi ini tentu membuat sebagian pelajar yang sebelumnya belum pernah bersentuhan secara serius dengan ilmu-ilmu tersebut merasa kaget. Tidak sedikit yang kemudian bertanya, mengapa mereka seolah-olah langsung dihadapkan pada materi yang begitu berat tanpa ada pembekalan dari al-Azhar terlebih dahulu?
Sebenarnya, sistem perkuliahan di Universitas al-Azhar tidaklah keliru. Kurikulum tersebut pada dasarnya memang dirancang dengan asumsi bahwa mahasiswa telah melewati jenjang pendidikan dasar di ma‘had al-Azhar, baik tingkat i‘dadiyyah maupun tsanawiyyah. Dengan kata lain, ada sejumlah fondasi keilmuan yang diasumsikan telah dimiliki sebelum seseorang memasuki jenjang S1.
Persoalannya muncul ketika pelajar asal Indonesia datang ke Mesir tanpa terlebih dahulu menyiapkan fondasi yang dibutuhkan untuk mengikuti perkuliahan tersebut. Hal ini cukup wajar, karena kurikulum pesantren atau sekolah di Indonesia memang tidak selalu dirancang agar lulusannya mampu memahami muqarrar S1 al-Azhar secara mandiri. Akibatnya, terdapat kesenjangan antara bekal keilmuan yang dibawa dari tanah air dengan standar yang dituntut dalam perkuliahan di Mesir.
Karena itu, calon mahasiswa perlu menyadari bahwa keberangkatan ke Mesir bukanlah garis awal untuk memulai seluruh proses belajar. Justru, masa ketika belajar di pesantren, atau masa setelah lulus dari pesantren, masa pengabdian, maupun masa menunggu keberangkatan merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk menyiapkan fondasi tersebut.
Tulisan ini tidak bermaksud mengatakan bahwa seseorang harus menguasai seluruh cabang ilmu secara sempurna sebelum berangkat. Namun, setidaknya ada beberapa bekal yang perlu mendapatkan perhatian serius agar ketika sampai di Mesir, ia tidak memulai semuanya dari nol.
1. Bekal Umum: Bahasa Arab dan Ilmu Alat
A. Bahasa Arab
Kemampuan bahasa Arab merupakan bekal paling mendasar bagi siapa pun yang hendak menuntut ilmu di al-Azhar. Tujuannya bukan hanya agar mampu berbicara, tetapi terutama agar mampu membaca dan memahami teks Arab dengan baik serta menuangkan gagasan dalam tulisanberbahasa Arab.
Untuk melatih kemampuan dasar tersebut, calon mahasiswa dapat menggunakan kitab-kitab seperti Durusu al-Lughah al-‘Arabiyyah atau al-‘Arabiyyah li an-Nasyi’in. Bekal semacam ini sebenarnya sudah banyak ditanamkan di pesantren-pesantren di Indonesia, tetapi tetap perlu diperkuat sebelum berangkat. Ia bisa memperkuatnya dengan memperbanyak menyimak rekaman kajian para ulama al-Azhar serta membiasakan diri membaca kitab-kitab berbahasa Arab.
Sebagai latihan, misalnya, dengarkan video Syaikh Usamah al-Azhari di YouTube yang berjudul «منهج الأزهر في صناعة العلماء» dan «الأزهري والواقع». Jangan hanya mendengarkannya sekali, ulangi beberapa kali hingga benar-benar memahami apa yang beliau sampaikan.
Baca kitab karya Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, «قيمة الزمن عند العلماء» dan «صفحات من صبر العلماء». Ulangi membacanya berkali-kali hingga kita semakin akrab dengan bahasa kitab dan terbiasa memahami teks Arab secara mandiri.
B. Ilmu Alat
Jika bahasa Arab adalah sarana untuk memahami teks arab secara dasar, maka ilmu alat adalah sarana untuk membedah dan menganalisisnya. Setidaknya ada empat cabang ilmu alat yang perlu mendapatkan perhatian serius:
• Nahwu: minimal mempelajari al-Ajurrumiyyah beserta salah satu syarahnya, seperti at-Tuhfah as-Saniyyah.
• Sharf: minimal mempelajari Matan al-Bina’ dan Tashrif al-‘Izzi.
Dengan bekal ilmu nahwu dan sharf yang memadai, disertai banyak latihan, seorang calon mahasiswa sangat diharapkan sudah mampu membaca kitab-kitab berbahasa Arab tanpa harakat (gundul) sebelum berangkat ke Mesir.
• Balaghah: Ia bisa mempelajari bagian ilmu bayan terlebih dahulu dari balaghah untuk menghemat waktu, dengan mempelajari kitab Tuhfatu al-Ikhwan.
• Manthiq: minimal mempelajari as-Sullam al-Munawraq atau Isaghuji.
Setelah memiliki dasar ilmu manthiq, calon mahasiswa juga sangat dianjurkan mempelajari Adab al-Bahts dan Maqulat. Ketiga disiplin ini akan sangat membantu ketika nantinya berhadapan dengan pembahasan aqidah dan ushul fiqih yang membutuhkan kemampuan memahami istilah, menyusun argumen, serta menganalisis perdebatan.
2. Bekal Ilmu Dasar Keislaman
Selain bahasa dan ilmu alat, calon mahasiswa juga perlu memiliki bekal dari sejumlah ilmu syar‘i dasar.
A. Aqidah
Untuk aqidah, minimal mempelajari salah satu kitab dasar seperti al-Kharidah al-Bahiyyah atau Ummu al-Barahin. Tujuannya agar ketika berhadapan dengan pembahasan aqidah di perkuliahan, mahasiswa tidak lagi memulai dari pengenalan istilah dan konsep-konsep dasar.
B. Musthalah Hadits
Dalam ilmu musthalah hadits, calon mahasiswa dapat memulai dengan Nukhbatul Fikar beserta syarahnya, Nuzhah an-Nazhar. Penguasaan terhadap dasar-dasar musthalah hadits akan sangat membantu ketika berhadapan dengan pembahasan hadits, baik dalam mata kuliah Musthalah Hadits maupun ketika mengkaji hadits sebagai dalil-dalil fiqih secara umum.
3. Bekal Khusus Jurusan Syari’ah
Selain bekal umum, mahasiswa jurusan Syari’ah membutuhkan persiapan yang lebih spesifik, terutama dalam bidang fiqih dan ushul fiqih.
A. Fiqih
Calon mahasiswa sebaiknya menguasai satu kitab fiqih yang membahas seluruh bab secara utuh, mulai dari thaharah hingga jinayat, dipelajari sampai khatam. Kitab standar minimal yang dapat dipelajari adalah al-Yaqut an-Nafis atau Matan Abi Syuja’.
Jika memungkinkan, usahakan untuk menghafal berbagai definisi (ta‘rif) istilah fiqih yang terdapat dalam al-Yaqut an-Nafis. Penguasaan terhadap definisi-definisi tersebut akan sangat membantu ketika nantinya mahasiswa berhadapan dengan pembahasan fiqih yang lebih luas dan mendalam.
B. Ushul Fiqih
Untuk ushul fiqih, calon mahasiswa dapat memulai dengan al-Waraqat, kemudian melanjutkannya dengan al-Luma’karya Abu Ishaq as-Syirazi.
Tujuannya bukan sekadar agar pernah membaca dua kitab tersebut, tetapi agar pokok-pokok pembahasan ushul fiqih telah dikenali sebelum memasuki perkuliahan. Dengan demikian, ketika berhadapan dengan kitab yang lebih tinggi seperti Nihayatu as-Sul, mahasiswa tidak lagi asing dengan istilah dan pembahasan dasarnya.
Apa Manfaatnya?
Persiapan ini tentu bukan sekadar menambah daftar kitab yang perlu dicatat. Ada manfaat yang sangat nyata ketika fondasi tersebut telah dimiliki sebelum berangkat ke Mesir.
Dengan menguasai bahasa Arab dan ilmu alat, mahasiswa akan lebih siap mendengarkan penjelasan dosen, membaca muqarrar secara mandiri, memahami teks kitab, serta menuangkan pemahamannya dalam ujian tulis maupun lisan. Ia tidak lagi menghabiskan sebagian besar energinya hanya untuk memahami bahasa dan istilah yang digunakan dalam materi.
Dalam mata kuliah fiqih madzhabi, misalnya, mahasiswa tidak akan terlalu kesulitan mengikuti berbagai pembahasan dalam muqarrar fiqih, baik fiqih maudhu‘i maupun fiqih nashshi (Kanzu ar-Raghibin). Sebab, dasar setiap bab telah ia miliki setelah mempelajari kitab seperti al-Yaqut an-Nafis. Ia tinggal memperluas dan memperdalam pembahasan yang diberikan dalam perkuliahan.
Dalam mata kuliah fiqih muqaran, mahasiswa juga tidak terlalu kebingungan ketika berhadapan dengan banyaknya pendapat. Dengan telah menguasai pendapat dalam mazhab Syafi‘i, fokusnya dapat diarahkan pada pendapat mazhab lain yang berbeda, kemudian mempelajari dalil, argumentasi, serta munaqasyah yang berkaitan dengannya.
Begitu pula dalam mata kuliah qadhaya fiqhiyyah mu‘ashirah. Mahasiswa yang telah memiliki dasar fiqih setiap bab akan lebih mudah memahami persoalan-persoalan kontemporer. Sebab, berbagai persoalan baru pada akhirnya membutuhkan proses takyif untuk menentukan posisi hukumnya berdasarkan kaidah dan pembahasan fiqih yang telah ada, baik dalam ranah ibadah maupun muamalah.
Dalam mata kuliah Tauhid, mahasiswa juga tidak akan terlalu kesulitan ketika berhadapan dengan kitab al-Qaul as-Sadid yang menjadi muqarrar mata kuliah Tauhid. Sebab, perangkat untuk memahaminya seperti manthiq, maqulat, adab al-bahts, dan dasar-dasar aqidah telah ia miliki sebelumnya.
Demikian pula dalam ushul fiqih. Ketika berhadapan dengan Nihayatu as-Sul, mahasiswa akan lebih mudah mengikuti pembahasannya karena fondasi yang menjadi penopang ushul fiqih telah dipersiapkan: bahasa Arab, ilmu kalam, dan fiqih. Pokok-pokok pembahasan ushul fiqih juga bukan lagi sesuatu yang sepenuhnya baru karena sebelumnya telah dipelajari melalui al-Waraqat dan al-Luma’.
Pada akhirnya, berangkat ke Mesir bukan sekadar soal menyiapkan koper, tiket, dan berbagai keperluan selama di sana. Ada bekal ilmu yang jauh lebih penting untuk dipersiapkan. Sebab, banyak kesulitan yang sebenarnya bukan semata-mata karena materi kuliah terlalu berat, tetapi karena kita datang tanpa membawa bekal yang cukup untuk memahaminya.
Jangan sampai setelah tiba di Mesir kita baru mulai belajar nahwu, sharf, manthiq, atau dasar-dasar fiqih dan ushul fiqih yang sebenarnya bisa dipersiapkan sejak di tanah air. Jangan sampai waktu yang seharusnya digunakan untuk memperdalam ilmu justru habis untuk mengejar pelajaran-pelajaran dasar.
Begitu pula dengan bimbingan belajar muqarrar. Bimbingan tentu dapat membantu, tetapi seorang mahasiswa idealnya sudah memiliki kemampuan untuk memahami muqarrar secara mandiri. Jika membutuhkan bimbingan, hendaknya ia datang untuk mendapatkan penjelasan dan pendalaman atas materi yang belum dipahami, bukan karena sejak awal tidak memiliki bekal yang cukup untuk membaca dan memahaminya sendiri.
Masa sebelum berangkat adalah kesempatan yang sangat berharga. Manfaatkan waktu tersebut untuk menyiapkan apa yang akan kita butuhkan setelah sampai di Mesir. Dengan bekal yang cukup, kita tidak perlu memulai semuanya dari nol.
Mungkin kitab-kitab yang kita pelajari di Indonesia akan kembali dipelajari di Mesir, tetapi keduanya tidak berada pada posisi yang sama. Di Mesir, para masyaikh akan mengajarkannya dengan lebih mendalam, tidak sekadar agar mahasiswa mengenal materi sebagai bekal persiapakan, melainkan untuk membangun malakah dan kemampuan ilmiah yang matang.
Karena itu, semakin kuat dasar yang telah kita miliki sebelumnya, semakin besar pula manfaat yang dapat kita peroleh ketika mempelajari ilmu bersama para masyaikh. Kita datang ke kelas bukan untuk pertama kali mengenal ilmu tersebut, tetapi untuk memperdalam, menyempurnakan, dan membangun kemampuan yang lebih matang di bawah bimbingan para masyaikh.
Sebagaimana ungkapan:
مَنْ عَرَفَ بُعد السفر استعدَّ
“Siapa yang mengetahui jauhnya perjalanan, akan mempersiapkan bekalnya sejak sebelum berangkat.”
Sebagian besar ilmu yang disebutkan di atas juga dapat dipelajari secara mandiri melalui rekaman-rekaman kajian yang tersedia secara gratis di YouTube, dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Misalnya, untuk ilmu-ilmu alat, banyak materi yang dapat diikuti melalui channel Musalsal TV bersama senior saya, Ustadz Muhayatsyah. Untuk fiqih, saya juga menyediakan kajian Matan Abi Syuja’ secara lengkap dan gratis di YouTube, sehingga calon mahasiswa dapat memanfaatkannya sebagai sarana persiapan sebelum berangkat. Selain itu, calon mahasiswa juga baik untuk menyimak rekaman seminar “Kharitatul ‘Ulum: Jalan Panjang Menjadi Ulama” yang disampaikan oleh Ustadz Fahmi Ain Fathah, sebagai tambahan bekal sekaligus gambaran tentang panjangnya perjalanan dalam menuntut ilmu dan menjadi seorang ulama.
Maka, jangan menunggu sampai Mesir untuk mulai membangun fondasi yang sebenarnya bisa dibangun sejak di tanah air. Datanglah ke Mesir untuk melanjutkan perjalanan ilmu, bukan untuk baru mencari bekal yang seharusnya sudah dibawa sejak awal. Semakin baik bekal yang kita bawa, semakin sedikit waktu yang harus dihabiskan untuk mengejar ketertinggalan, dan semakin banyak kesempatan yang bisa kita gunakan untuk lebihmemperdalam ilmu.
