Berikut ini adalah wawancara Ust Ahmad Saiful Millah, Lc, dengan sebuah majalah kekeluargaan KMA (warga Aceh) tahun 2017 lalu.
*Kalau ditanya apa itu ma’ridh kutub, saya kira sobat semua sudah tahu yah? Bagi saya ma’ridh kutub adalah 3 komponen; area yang luas, deretan toko buku, ribuan karya tokoh klasik maupun kontemporer. Maridh kutub atau Cairo International Book Fair tahun ini adalah book fair ke-48 yang merupakan agenda rutinan setiap tahun. Menurut keterangan yang resmi, book fair tahun ini disemarakan oleh 35 negara; 22 negara-negara Arab dan Afrika, dan 13 negera-negara non Arab, terdiri dari 850 percetakan; 250 percetakan arab, 50 percetakan non arab, dan 550 percetakan Mesir secara khusus, amazing bukan?? Yaa sobat semua sangat beruntung, kok bisa? Mari sama-sama kita bayangkan, Apakah semua orang khususnya mahasiswa dari penjuru dunia bisa menikmati book fair yang sangat besar ini? Apakah semua orang khususnya mahasiswa Indonesia bisa menikmati book fair ini? Kog bisa dari sekian banyak negara, Mesir lah yang terpilih sebagai tuan rumah book fair ini? Terjawab kan pertanyaan-pertanyaan diatas? Sehingga boleh lah saya mengatakan nahnu khiyârun min khiyârin min khiyârin.
*Adapun masalah peranan book fair bagi sobat masisir tentu sangat besar. Sebagai mahasiswa AlAzhar tentu kita tau ya misi besar yang diusung Al-Azhar; al-‘audah ila at-turast (kembali ke turast), dari sini sangat jelas bahwa book fair merupakan salah satu fasilitator terbesar untuk mewujudkan misi Al-Azhar itu, karena di sanalah kita bisa menemukan karya-karya ulama kita terdahulu. Bukanlah sesuatu yang asing bagi pegkaji sejarah bahwa Al-Islâm Hadhâratul Kutub wal Maktabât (Islam adalah simbol peradaban buku dan toko buku), kog bisa? Fakta lapangan, fakta lapanganlah yang membuktikan bahwa dibalik tingginya grafik keilmuan suatu negara ada buku-buku dan toko-toko buku, entah itu ketika keilmuan Islam berjaya di Baghdad, Andalus, maupun Mesir sebagaimana yang kita lihat sekarang. Yah, buku dan toko bukulah yang akan meningkatkan kualitas keilmuan sobat-sobat semua, jadi jangan ragu untuk menghabiskan waktu sobat di book fair sejak terbitnya hari dibuka book fair sampai terbenam hari ditutup book fair. Sobat semua kenal Dr. Usamah Sayyid Al-Azhari kan? Jauh-jauh hari beliau mempersiapkan diri untuk menyelami lautan book fair ini, semakin dekat bookfair, semakin berdebar-debar jantung beliau. Ketika tiba waktunya, selama 14 hari book fair dibuka, selama 14 hari pula beliau berdiri diantara deretan toko buku di sana, mulai pukul 9 pagi sampai 7 malam, tidak istirahat kecuali untuk shalat dan makan minum, pantas beliau jadi macan hehe.
*Karena book fair ini sangat besar, sobat semua tidak bisa sembarangan masuk dan mengunjungi toko buku sesuka hati, perlu ada step-step yang harus sobat semua ketahui, kalau tidak maka book fair akan terasa seperti angin yang datang dan pergi begitu saja. Sebenarnya masalah step-step ini bisa jadi berbeda-beda, tergantung pengalaman yang dimilikinya, hanya saja sejauh pengalaman saya step-step itu secara umum adalah sebagai berikut:
1. Hari pertama, kunjungilah toko-toko buku ber`plat merah` dalam artian bersubsidi. Antara lain AlMajlis Al-`A’la, Darul Kutub Al-Mishriyyah wa Al-Watsaiq Al-Qaumiyyah, Maktabah Al-Usrah/ AlHai`ah Al-‘Amah, Dar As-Sya’b, Al-Markaz Al-Qaumi li At-Tarjamah, dan Al-Azbakiyyah. Untuk Azbakiyyah, berilah perhatian khusus dan kalau bisa setiap kali ke book fair, jangan sampai tidak berkunjung ke sana. Selain Azbakiyyah sebagai selousi penyakit kanker atau kantong kering, sobat semua bisa menemukan cetakan-cetakan lama yang mungkin sekarang sudah tidak dicetak lagi, atau dicetak lagi akan tetapi kualitasnya tidak lebih baik dari cetakan yang lama.
2. Selanjutnya, utamakanlah untuk berkunjung ke toko-toko buku Mesir yang memberikan diskon ketika book fair. Biasanya antara lain: Dâr Asyurûq, Maktabah Khanji, Dâr Al-Ma’arif, Madbuli, Maktabah Adab, Ad-Dâr Al-Mishriyyah Al-Lubnâniyyah, Muassasah Iqra` (biasanya dijual di stand Muassasah Ar-Risalah Al-‘Alamiyyah), Kasyîdah dan Dâr Al-Fikr Al-Arabiy.
3. Setelah itu, kunjungilah toko-toko buku dari luar Mesir namun lumayan murah atau berdiskon, antara lain: Syirkah Sozler, Dâr An-îl, Dâr Ibn Al-Jauzi, Muassasah Qurthubah, Maktabah As-Sunnah, dan semua toko-toko buku dari Saudi itu berdiskon dan murah-murah biasanya.
4. Baru deh sobat semua bisa main ke toko-toko buku yang elit akan tetapi sangat recommended untuk dikunjungi, antara lain: Dâr-Fikr Al-Mu’âshir, Dâr Ad-Dhiya, Dâr Al-Fath, Dâr An-Nûr Al-Mubîn, Dâr Al-Qalam, Dâr Kunûz Al-Ma’rifah, Dâr Al-Faqîh, dan Al-Maktabah Al-Ashriyyah. Untuk yang ini ada sedikit catatan, terkadang buku-buku mereka dijual lebih murah di Dâr As-Salâm, jadi alangkah baiknya sebelum membeli buku-buku di stand yang elit diatas, sobat semua membandingkan harganya di Darussalam.
5. Setelah itu semua sudah dikunjungi, baru deh silahkan berkunjung ke toko-toko buku lainnya supaya mereka tidak cemburu.
*Menurut saya, buku-buku yang wajib dimiliki oleh terlebih dahulu adalah buku-buku yang berbicara tentang Al-Azhar itu sendiri, Seperti kitab Al-Azhar Jâmi’an wa Jâmi’atan, Risâlatul Azhar As-Syarîf, dan Al-Manâhij Al-Azhariyyah. Baru setelah itu silahkan membeli buku-buku turast dan kontemporer di setiap disiplin ilmu, dari buku yang mubtadi sampai muntahi. Jangan lupa ya, prioritaskan perbanyak buku-buku referensi pada bidang ilmu spesialisasi yang sobat ambil di kuliah J. Setalah itu belilah buku-buku yang sifatnya bisa menambah wawasan, biasanya buku-buku yang ditulis oleh pemikir-pemikir kontemporer, yaa supaya kita mengikuti perkembangan Islam di abad milenium ini, kan jadi nggak kudet.
*Terkait antusiasme sobat masisir saya kira sudah baik namun masih perlu ditingkatkan lagi, tidak jarang saya mendapati masisir selama ma’ridh hanya berkunjung satu atau dua kali, bahkan ada yang tidak pernah sama sekali.
Semoga tahun depan kita bisa lebih memaksimalkan waktu kita di book fair, ingat ya! “Berkunjung ke book fair tidak harus membeli buku, lebih penting dari itu adalahkita bisa mengamati perkembangan literatur buku dunia islam, sungguh buku adalah warisan ulama kita yang paling berharga. Jadi, kalau kamu bisa menghabiskan sepanjang siang harimu di book fair, maka lakukanlah”










