Notula Seminar Pengenalan Pameran Buku Internasional Kairo 2020

0
538

MENITI TANGGA-TANGGA BUKU; SEBUAH PENGANTAR CIBF
BERSAMA AL USTADZ AHMAD SAIFUL MILLAH, LC***
Oleh : Farah Hasballah

A. SEJARAH MAKTABAH

MAKSUD MAKTABAH

Sebelum membahas tentang pameran buku internasional di Kairo, lebih dahulu kita membahas tentang apa itu maktabah. Maktabah bisa bermakna dua, perpustakaan juga toko buku. Jika bermakna dua, artinya perpustakaan dan toko buku tumbuh kembang bersama dengan perkembangan masjid. Karena jual beli adalah hasil dari kebutuhan masyarakat. Juga karena perkembangan perpustakaan dan toko buku tidak bisa dipisahkan dari masjid.

KENAPA TOKO BUKU?

1. Karena Umat Islam adalah umat yang membaca
2. Bukti Historis peranan toko buku dalam membangun peradaban

KODIFIKASI ILMU

1. Kepenulisan bagi Orang Arab Jahiliyah

Sebelum Islam datang, bangsa Arab sudah memiliki budaya menulis. Para penyair zaman dahulu menuliskan bait bait syairnya diatas batu, pelepah kurma, dsb. Di dalam Museum Seni Islam yang terletak di daerah Sayyidah Zainab, tersimpan kertas buatan abad kedua, cara membuatnya, cara mewarnai, juga ada cara membuat pena.

2. Kepenulisan di Era Nabi

Pada era ini, kepenulisan menjadi berkembang dengan pesat, juga menjadi tuntutan. Karena misi Rasulullah adalah menyebarkan Islam, sedangkan dalam proses persebarannya harus berhadapan dengan empat peradaban dunia yang mengepung Jazirah Arab (Mekah, Madinah, Najar) yaitu peradaban Yunani, Romawi, Persia, dan Hindia.

Faktor berikutnya adalah Rasulullah memerintahkan sahabatnya untuk menulis wahyu juga mengirimkan surat kepada raja untuk menyampaikan ajakan memeluk agama Islam. Berarti umat Islam saat itu juga harus pandai menulis bahkan Rasulullah membutuhkan penerjemah untuk memahami balasan surat. Zaid bin Tsabit RA ditanya Nabi SAW, “Apakah engkau memahami bahasa Suryani?”. Sahabat Zaid menjawab tidak. “Maka belajarlah!” perintah Rasul. Zaid mengatakan, “Kemudian aku belajar bahasa Suryani selama 18 hari dan aku sudah menguasainya.” Rasulullah sendiri saat itu memiliki 40 katib (juru tulis) dengan tugas masing masing.

3. Era Kodifikasi Ilmu

Menurut Imam Dzahabi, Masa pengkodifikasian ilmu (‘asrut tadwin) dimulai sejak tahun 143 H (diperkirakan zaman Imam Abu Hanifah). Imam Abu Hanifah memiliki dua murid yang terkenal, Abu Yusuf dan Muhammad ash-Shaibaani yang nantinya diminta tolong Khalifah untuk menuliskan apa saja yang mereka dengar dari sang guru. Begitu juga setelah selesai masa Imam empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali), para muridlah yang mengembangkan juga menyebarkan ajaran gurunya dan terus berlanjut hingga saat ini.

Bisa dibayangkan betapa banyak karya yang dihasilkan umat Islam. Bahkan banyak peneliti mengatakan tidak ada agama yang memiliki karya sebanyak milik umat Islam. Duktur Mukhtar Muhsin menjelaskan bahwasanya buku-buku yang saat ini sudah dicetak dan tersebar di kalangan masyarakat baru mencapai 1,5% persen dari total asli karya karya ulama. Itupun tanpa mengkilas balik sejarah Islam yang pernah merasakan kelam soal dunia literasi. Banyak buku dihancurkan di Baghdad zaman keruntuhan Daulah Abbasiyyah (656 H) oleh bangsa Mongol. Begitu juga yang terjadi di Andalusia (897 H). Semua buku yang dimiliki umat Islam dibakar oleh Masihi.

AWAL MUNCULNYA MAKTABAH

Sulit sekali mengidentifikasikan awal toko buku atau percetakan dalam dunia Islam secara historis. Tapi secara umum, bisa kita katakan maktabah tumbuh seiring perkembangan masjid. Karena masjid juga digunakan untuk pusat pengembangan keilmuan, strategi perang, menjadi pusat kajian. Oleh karena itu membutuhkan maktabah juga untuk mendukung peran masjid yang beragam. Kalau memang benih maktabah muncul dari masjid, Maka kita katakan maktabah pertama kali dalam dunia Islam adalah rumah Nabi Muhammad SAW, karena rumah beliau juga merupakan masjid.

PUSAT KEILMUAN

1. Irak
2. Mesir
3. Andalusia

KENAPA MESIR?

Mesir sudah menjadi pusat peradaban keilmuan dari tiga peradaban saat itu. Tapi, setelah Irak dan Andalusia runtuh, maka pusat peradaban dunia Islam tinggal Mesir. Lalu kemana larinya seluruh ulama kalau bukan Mesir. Termasuk diantaranya Imam Nawawi. Bahkan ada satu keluarga yang merupakan keluarga ulama, yang terkenal dengan sebutan keluarga Subki. Jadilah Mesir menjadi titik temu peradaban Irak dan Andalusia. Maka tidak heran jika Ulama Al Azhar mengatakan jika Ka’bah merupakan kiblat umat Islam saat haji, maka Mesir adalah kiblat umat Islam dalam hal ilmu.

FAKTOR PENDIRIAN MAKTABAH

1. Cinta ilmu dan pengetahuan

Berbeda dengan yang terjadi pada umat saat ini. Bahkan ada ungkapan arab yang diartikan berbunyi Umat Islam saat ini tidak membaca. Jika membaca, tidak mengerti. Jikapun memahami, tidak melaksanakan (apa yang dibaca). Orang Yahudi bahkan berkata, “Dahulu kami takut terhadap umat Islam, tapi sekarang tidak. Karena mereka tidak membaca.”

2. Tidak adanya lembaga-lembaga keilmuan

Zaman dahulu belum ditemukan ma’had ataupun universitas sebagai institusi pendidikan, sehingga pembentukan keilmuan masyarakat melalui peran maktabah.

3. Bahasa Arab sebagai bahasa resmi

4. Mudahnya penulisan bahasa Arab

5. Harga buku yang terjangkau

JENIS-JENIS MAKTABAH

1. Maktabah Masajid, berdampingan dengan masjid, seperti yang dijelaskan di pembahasan sebelumnya.
2. Maktabah Khulafa, menjadi kebiasaan setiap khalifah memiliki perpustakaan sendiri karena perhatian khusus akan literasi
3. Maktabah Hadaiq, selain fungsi taman sebagai tempat rekreasi keluarga dan hiburan, jugaterdapat maktabah ditengah-tengahnya, untuk menunjang kebutuhan membaca masyarakat.
4. Maktabah Awqaf, pemberian waqaf dari para muhsinin.
5. Maktabah Ammah, maktabah yang dibuka untuk umum.
6. Maktabah Khassah, milik pribadi.

Ada kisah menarik dari seorang ulama abad 6 bernama Abu ‘Alaa al Hamadzaani. Yang dilakukan selama hidupnya adalah membeli buku. Sewaktu perjalanan ke Iraq, beliau mendengar kabar bahwasanya ada seorang ulama yang baru saja mengeluarkan karya terbaru. Imam al Jawaaliqi menulis sekitar sepuluh buku. Karena memang sedang tidak berencana membeli buku saat memulai perjalanan, tanpa ragu al Hafizh Abu ‘Alaa mengunjungi toko buku dan mengatakan kepada sang penjaga, “Saya beli semua buku al Jawaaliqi. Tapi saat ini saya belum punya uang. Saya berjanji akan membayarnya minggu depan.”

Sesampai di rumah, Abu ‘Ala memanggil khadim(pelayan)nya. “Saya baru saja membeli bukubuku ini, tapi dengan berhutang. Tolong jual rumah ini.” Abu ‘Alaa rela melakukan perjalanan keliling dunia hanya untuk mengumpulkan karya-karya ulama yang belum dimilikinya. Menjelang wafat, Beliau mewaqafkan seluruh koleksi bukunya untuk umat Islam. Setelah beliau wafat, sang khadim bermimpi bertemu majikannya di dalam sebuah rumah yang seluruhnya terbuat dari buku. Beliau sedang duduk membaca. Khadim tersebut terheran-heran, kenapa bisa seperti ini. Abu ‘Alaa menjelaskan, “Saya berdoa kepada Allah sebelum saya wafat, agar setelah saya meninggal disibukkan dengan kesibukan saya ketika didunia.”

PERAN MAKTABAH BAGI PERADABAN ISLAM

1. Membentuk Ulama-ulama Kompeten
2. Menyambung Silsilah Keilmuan
3. Menjaga Tradisi Keilmuan Islam
4. Memupuk Persatuan Bangsa
5. Membangun Hubungan Politik
6. Memperkuat Toleransi

Sastra Arab mulai melemah pada tiga abad terakhir Daulah Utsmaniyyah. Ulama-ulama saat itu sangat sedikit begitu juga dengan karya-karyanya. Karena kebijakan daulah saat itu mengharuskan seluruh literasi Islam yang tersebar di banyak daerah kekuasaan agar diboyong ke Turki, sebagai pusat kerajaan. Maka saat terjadi kekosongan literasi dibanyak wilayah Islam, terjadi sebuah gap. Syaikh Usamah al Azhari mengisahkan, zaman dahulu, pemandangan sepanjang jalan dari Masjid al-Azhar sampai ke arah DownTown merupakan rangkaian toko buku. Berbeda yang kita jumpai sekarang, beberapa berganti menjadi toko souvenir khas Mesir, meskipun masih bisa kita temui beberapa maktabah. Maktabah juga ikut berperan aktif dalam membangun hubungan politik, karena seringkali seorang raja menghadiahkan kepada raja dari kerajaan lain berupa buku. Contoh lain, saat seorang khalifah mendapati bahwa ada satu makhtutath (manuskrip) langka yang hanya dimiliki dinasti lain, maka khalifah tidak segan menawarkan bantuan kepada dinasti itu dengan syarat mennyerahkan makhtutah tersebut.

B. TENTANG PAMERAN BUKU INTERNASIONAL KAIRO

Cairo International Book Fair (CIBF) tahun ini merupakan yang ke-51 kalinya sejak pertama kali diadakan pada tahun 1969. Fakta menarik, CIBF pernah menjadi pameran buku terbesar di dunia setelah Frankfurt International Book Fair di Jerman pada tahun 2016.

TRIK MENYELAMI CIBF

Pameran buku diadakan selama 14 hari. Haruslah pandai-pandai dalam menyusun strategi berkunjung ke CIBF. Berikut tips dan trik mengunjungi stan-stan di pameran buku ini:

Hari 1: Penerbit ‘plat merah’ dalam artian percetakan bersubsidi, sehingga buku tebal pun bisa diraih dengan harga murah namun kualitas oke. Diantaranya Maktabah al-Usrah, Darul Kutub al-Misriyyah,al-Markaz al-Qaumi lit Tarjamah, Hai’ah Ammah Misriyyah, Majlis A’la, Dar Ifta Misriyyah, Al Azhar.

Hari 2: Penerbit Mesir berdiskon, contohnya Dar asy-Syuruq, Maktabah Misriyyah Lubnaniyyah, Maktabah Khanji, Dar al Maarif, Madbuli, Maktabah Adab, Kasyidah, Muassasah Iqra (biasanya dijual di stand Muassasah ar Risalah al-Alamiyyah, dan Dar al-Fikr
al-Arabiy.

Hari 3: Penerbit luar Mesir yang murah dan berdiskon, Syirkah Sozler, Dar an-Nil, Dar Ibn Jauzi, Muassasah Qurthubah, juga Maktabah as-Sunnah

Hari 4: Penerbit luar Mesir yang elit dan berkelas, misal Dar an-Nur al-Mubin, Dar Fikr al Muashir, Dar ad-Dhiya, Dar al-Fath, Dar al-Qalam, Dar Kunuz al-Ma’rifah, Dar al-Faqih, dan Al-Maktabah al-Ashriyyah.

Catatan: Rata-rata penerbit dari luar Mesir memiliki kualitas cetakan bagus dan mahal, juga orientasinya khidmah. Secara umum, orientasi dari sebuah penerbit bisa dibagi menjadi dua, pertama bersifat komersial, berimbas kepada harga yang mahal tetapi dengan kualitas rendah juga pemilihan pentahqiq yang bukan spesialis di bidangnya dan kedua memang bertujuan untuk berkhidmat untuk umat. Stan al Azhar juga menjadi salah satu destinasi yang ‘wajib’ dikunjungi. Karena biasanya menyediakan diskon 50% bagi setiap mahasiwa yang membeli kitab cetakan alAzhar. Dalam permasalahan pameran buku ini, tentukan prioritas mana saja yang harus dikunjungi terlebih dahulu. Jika yang diutamakan sudah dikunjungi semuanya, barulah kiranya bebas melihat keseluruhan stand yang ada disana. Syekh Fauzi Konate, seorang alim azhari ahli bahasa pernah mengatakan;

إذا استطعت أن تقضي بياض كل يومك في المعرض فافعل

(Jika engkau bisa menghabiskan setiap waktu siangmu untuk ke pameran buku maka lakukanlah)

TRIK MEMILIH BUKU

1. Kenali pengarang dan pentahqiq jika buku yang akan kita beli merupakan turats.

2. Pastikan adanya scan manuskrip di awal-awal halaman buku juga referensi atau metode tahqiqnya, jika itu turats.

3. Jika karya kontemporer, pastikan pengaranganya terkenal atau jelas profilnya, atau berdasarkan referensi. Semakin banyak semakin bagus, tapi tidak asal banyak, melainkan memang bisa dijadikan sandaran keilmuan.

4. Baca sinopsis, daftar isi buku, terutama muqaddimah. Karena muqaddimah merupakan kesimpulan dari buku tersebut.

5. Utamakan rekomendasi dari senior dan masyayikh.

6. Jangan langsung membeli buku yang dimaksud. Keliling terlebih dahulu untuk membandingkan harga.

Dalam permasalahan kitab turats, Kenapa pentahqiq ikut berperan sangat penting dalam kualitas sebuah buku? Kitab turast mengalami dua fase, pertama dalam alam manuskrip (عالم المخطوطات) masih berupa tulisan tangan asli penulis, ataupun tulisan tangan oranglain (nussakh) yang didikte langsung oleh ulama dalam menuangkan karyanya. Kemudian fase setelahnya, yaitu alam percetakan (عالم الطباعة). Di sinilah peran pentahqiq menjadi krusial, yaitu yang menjadi eksekutor proses berpindahnya kitab turats dari alam manuskrip menjadi kitab yang dicetak. Minimal, pentahqiq akan mengumpulkan dua manuskrip untuk dibandingkan, diteliti antara satu dengan yang lain.

Biasanya manuskrip sudah berumur lama dan tulisannya sudah tidak terlalu jelas. Sehingga semakin banyak manuskrip yang berhasil dikumpulkan, semakin bagus hasil yang diperoleh. Sehingga terkadang usaha pentahqiq lebih berat dari seorang muallif atau pengarang kitab. Karena seorang muallif cukup menuangkan idenya, sedangkan pentahqiq harus mampu mengira-ngira apa yang diinginkan dari seorang muallif. Fakta yang terjadi di lapangan, tidak semua pentahqiq memiliki rasa amanah keilmuan dalam menjalankan tugasnya. Beberapa pembahasan yang sekiranya tidak sesuai dengan prinsip pentahqiq dan berseberangan dengan muallif, maka tidak segan dihapus bahkan mengubah maksud penulis. Itulah pentingnya mengetahui pentahqiq-pentahqiq yang direkomendasikan.

Satu dari sekian banyak contoh kasus yang terjadi, Imam Syatibi, seorang ulama yang mendapat julukan ‘bapak ilmu maqashid’ memiliki sebuah karya masterpiece berjudul al-Muwafaqat. Pada aslinya, kitab beliau hanya terdiri dari dua jilid. Oleh seorang salafi ditahqiq menjadi empat jilid sehingga terlalu banyak catatan tambahan dari teks asli, Yang mana catatan tambahan atau hamish tersebut malah berisi bantahan terhadap isi kitab muawafaqat. Hal ini merupakan penyelewengan dari tujuan awal tahqiq, yaitu memastikan kitab sesuai dengan isi kepala penulis. Berbeda dengan hasil tahqiq dari Syekh Abdullah ad-Darraz -spesialis maqashid- yang tetap menjadi dua jilid.

TIPS MEMBELI BUKU

1. Prioritaskan buku pengajaran (كتاب الدرس) biasanya dikaji oleh para masyayikh al Azhar, daripada buku bacaan (كتاب المطالعة) yang bersifat menambah wawasan atau yang membantu untuk memahami buku pengajaran. Untuk buku pengajaran tersendiri pun terbagi lagi levelnya menjadi tiga, pemula (mubtadi), menengah (mutawassit), dan akhir (muntahi). Usahakan lengkapi terlebih dahulu buku pengajaran mubtadi di setiap disiplin ilmu. Menurut al Azhar sendiri, disiplin ilmu terbagi menjadi 12. Delapan diantaranya ilmu alat dan empat sisanya ilmu maqashid, sebelum akhirnya melengkapi hingga tahap muntahi.

2. Prioritaskan buku referensi spesialisasi. Jika memang mengambil jurusan syariah, maka usahakan lengkapi terlebih dahulu di bidangnya sebelum berfokus ke bidang lainnya, begitu juga yang lainnya.

3. Prioritaskan buku tentang Keazharan dan Mesir.

SEBAGIAN BUKU REKOMENDASI UST. AHMAD SAIFUL MILLAH,LC

  1. Buku-buku tentang Mesir dan Keazharan
    • حسن المحاضرة في أخبار مصر و القاهرة
    • الأزهر في ألف عام
    • الأزهر جامعا و جامعة
  2. Buku-buku tentang kesabaran ulama dalam menuntut ilmu
    • صفحات من صبر العلماء
    • قيمة الزمان عند العلماء
    • العلماء العذاب الذين آثروا العلم على الزواج
    • إلى كل فتات تؤمن بالله – للشيخ رمضان البوطى
  3. Buku-buku yang berkaitan dengan Jurusan Syariah
    • المدخل إلى دراسة المذاهب الفقهية – للأستاذ الدكتور على جمعة
    • المدخل إلى الشريعة الإسلامية
    • المدخل إلى المذاهب الإسلامية – للدكتور أبو زهراء
    • المدخل العام – للدكتور مصطفى زرقاء
    • التاريخ التشريع – للدكتور شعبان إسماعيل

PENUTUP

Belajarlah bukan untuk dirimu saja, karena jika begitu maka sedikitpun sudah cukup. Tapi jika belajarmu untuk umat, maka sesungguhnya kebutuhan umat sangatlah banyak.

من طلب العلم لنفسه, فقليل منه يكفى

و من طلبه لنفع الناس, فحوائج الناس كثيرة

* Seminar diadakan oleh Senat Mahasiswa Indonesia Fakultas Syariah Islamiyyah Universitas Al Azhar pada Sabtu,25/01/2020 bertempat di Aula Pasanggrahan, KPMJB, Hay Asyir, Cairo.

** Pemateri merupakan mahasiswa pascasarjana universitas al Azhar Jurusan Politik Islam, Ketua Perpustakaan Mahasiswa Indonesia di Kairo 2016-2017

*** Jangan lupa lanjut membaca artikel: Q n A Untuk Guidance Book Fair bersama Ust. Ahmad Saiful Millah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here