Kairo, semafsialazhar.com – Melihat keadaan kuliah yang semakin aktif, SEMA-FSI bekerjasama dengan DP Keilmuan KPMJB menghelat ‘Sharing and Caring about How to get Cumlaude’ pada Ahad (30/9) di Aula Pasanggrahan KPMJB. Acara yang berdurasi 3 jam tersebut, menguak tips dan trik mendapatkan nilai Mumtaz, direncanakan maupun tidak disengaja. Dengan pemateri yang tidak lain adalah peraih predikat Mumtaz di tingkat akhirnya dalam perkuliahan, secara rinci mengupas kiat-kiat belajar dan usaha menuju Mumtaz di akademik perkuliahan.
Ustadzah Nenden Wia Darojatun dan Ustad Ahmad Nur Mukhlisin, sama-sama peraih predikat Mumtaz di tingkat akhir perkuliahan dengan cara dan usaha yang berbeda. “Tidak ada orang yang sibuk, yang ada hanya orang yang tidak bisa membagi waktu.” merupakan sepenggal kata singkat dari Ustadzah Nenden, namun begitu memikat para hadirin saat itu. Ustadzah Nenden, yang menghabiskan detik-detik terakhir di masa perkuliahannya untuk menimba ilmu di luar kota Kairo yakni Alexandria, tetap bisa meraih predikat yang luar biasa tersebut dengan ‘tidak sengaja’.
Lain cerita dengan Ustadz Mukhlisin, yang mengabdikan dirinya untuk Masjid, dengan cara yang berbeda dari Ustadzah Nenden, beliau berhasil meraih predikat Mumtaz di akhir masa perkuliahannya. Memilih tinggal jauh dari peradaban para wafidin (sebutan bagi mahasiswa asing di Al-Azhar), Ustadz Mukhlisin yang mengaku hanya kuliah 3-7 kali dalam sebulan, mengkhatamkan muqorror (diktat kuliah Al-Azhar) secara otodidak. Selebihnya, beliau mengabdikan dirinya untuk Masjid di daerah Matoriah.
Di tengah acara, para hadirin dihibur dengan lantunan nasyid dan irama-irama kombinasi antara gitar dan biola, menarik antusias penonton yang memadati aula saat itu. SEMA-FSI juga mengapresiasi para hadirin dengan mengadakan doorprize di akhir acara, dengan menjawab beberapa pertanyaan seputar Seminar hari itu.









