Ketika Algoritma Media Sosial Menjelma Sebagai Kiblat: Akankah Al-Quran Masih Menjadi Poros Kehidupan Perempuan Muslimah?

0
236

Penulis: Raisa Kamila
Editor: Kunta Ulinnuha

A. Pendahuluan

Bayangkan menghabiskan 37,5 persen dari jatah 24 jam per hari ¹ dengan membuka media sosial dan berbagai konten di dalamnya. Tentu apa yang muncul di layar seringkali di luar kendali kita; kalau memastikan kesesuaiannya dengan kebutuhan saja rasanya ragu, bagaimana mengenai kesesuaiannya dengan syariat agama?

Konten hari ini tersedia di media sosial layaknya makanan hangat yang asapnya masih mengebul; terasa hangat, dan membuat yang “lapar” akan cepat menyantapnya tanpa berpikir panjang tentang apa yang dikonsumsinya.

Pertanyaannya, siapa yang menyajikan hidangan-hidangan digital ini sehingga mereka seakan selalu datang di saat yang tepat dengan momen “lapar”? Bahan apa saja yang dia gunakan? Apakah betul-betul “sehat” untuk dikonsumsi?

B. Berkenalan dengan Algoritma

Pelaku dari pertanyaan di atas, bukanlah manusia; melainkan teknologi yang ingin mengenal kita layaknya manusia. Jika pengguna media sosial di tahun 2026 sekitar 180 juta orang² maka tentunya platform penyedianya akan terus mengharapkan kenaikan angka tersebut, salah satu caranya adalah dengan membuat teknologi yang mampu membuat pengguna bertahan lama. Dialah algoritma; serangkaian instruksi dan data yang mengatur cara konten direkomendasikan kepada penggunanya. ³

Algoritma berkenalan dengan peka akan konten seperti apa yang menarik bagi kita. Semua diracik menjadi formula hidangan digital yang membuat “ketagihan”. Jika seorang koki menghitung detail racikan bumbu penyedap di masakannya agar yang menikmati ingin menambah, maka sedetail apa racikan algoritma memprediksi sasarannya?

C. Orientasi Muslimah di tengah Cengkraman Kendali Algoritma

Perempuan – termasuk di dalamnya para Muslimah – menjadi kelompok yang mendominasi angka pengguna media sosial dengan persentase sebesar 56,3 persen. Platform seperti Instagram dan Tiktok menjadi ruang favorit, dengan tingkat akses perempuan masing-masing 82,4 persen dan 78,4 persen.²

Layaknya penyedap rasa yang tidak langsung merubah bentuk makanan tapi merubah cara lidah menikmatinya, maka algoritma pun tidak terburu-buru menjadi “alat ajaib” pengubah arah hidup pengguna. Selama menggunakan media sosial, boleh jadi kita sesungguhnya bukanlah sedang memilih; tetapi sedang merasa seolah “memilih” di atas opsi-opsi yang sebetulnya sudah dipilihkan.

Muslimah hari ini sebagai bagian dari umat yang hidup di perjalanan menuju akhir zaman, mulai kebingungan mengenai standar “ideal”. Hari pertama dia melihat konten kehidupan seorang perempuan karir, hari kedua melihat perempuan sebagai “trophy wife”, begitu terus hingga hari-hari berikutnya. Dalam kasus lain, semua yang dilihatnya di media sosial adalah kehidupan tipe tertentu saja, sehingga sempitnya sudut pandang tersebut membentuk standar “ideal” di matanya. Fenomena sejenis ini seringkali disebut dengan filter bubble – ruang informasi sempit yang hanya berisi konten sesuai pandangan penggunanya; menciptakan bias opini³ padahal yang dilihat hanyalah sebagian kecil dari realitas yang dipilihkan.

Dari contoh permasalahan tadi, tanpa disadari yang semula hanya tontonan, menjadi tolok ukur, dan yang awalnya sekadar inspirasi, menjadi standar. Dari sinilah seseorang perlahan kehilangan pijakan untuk menilai dan menentukan orientasi dirinya sendiri. Algoritma memang tidak mengubah pola pikir apalagi akidah seseorang dalam semalam; melainkan menggeser titik acuannya sedikit demi sedikit.

D. Merujuk Kembali Kepada Al-qur’an di tengah Perebutan Orientasi pada Diri Muslimah

Para ulama ahli bahasa banyak berbeda pendapat mengenai asal usul kata Al-Quran (القران). Sebagian menyebutkan bahwa Al-Quran berarti bacaaan. Jika Al-Quran hanya diartikan sebagai “bacaan” maka tidak ada kegiatan lain selain membaca. Tetapi jika diartikan sebagai “sesuatu yang dibaca” otomatis ada kegiatan lain seperti pengkajian, penafsiran, dan pengamalan. ⁴

Apa-apa yang ada di dalam Al-Quran sudah pasti kebenarannya, hal ini sejalan dengan firman Allah:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Dalam tafsirnya, Ibn Katsir menjelaskan bahwa lafadz (ذلك الكتاب) merujuk kepada Al-Qur’an, sedangkan (لا ريب فيه) menunjukkan bahwa tidak ada sedikit pun keraguan terhadap kebenaran petunjuk yang dikandungnya. Dengan demikian, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan sumber orientasi hidup yang kokoh bagi seorang Muslim. ⁵

Namun kenyataannya hari ini Muslimah modern rasanya seperti mulai bias memilih kiblat kehidupan antara algoritma media sosial, atau betul-betul Al-Quran? Dalam memilih sesuatu, perlu kita sepakati bahwa seharusnya kita melakukan komparasi:

AlgoritmaAl-Quran
Mempelajari apa yang disukai manusiaMenuntun kepada apa yang dibutuhkan manusia
Menyesuaikan preferensiMeluruskan preferensi dengan wahyu Allah
Nilai berubah sesuai trenNilai relevan untuk seluruh zaman
Orientasi engagement dan waktu layarOrientasi hidayah dan ketakwaan

Islam tidak melarang menggunakan media sosial; tapi sebagaimana yang kita ketahui, sebagai agama yang syariatnya relevan untuk semua zaman, Islam selalu menawarkan solusi – yang dalam hal ini adalah menjadikan Al-Quran sebagai filter dari semua yang dihadapi manusia, termasuk pilihan dalam menentukan orientasi kehidupannya. Bersama Al-Quran, sebelum seorang Muslimah mengikuti standar duniawi, akan kembali ke kiblat utamanya terlebih dahulu – sehingga orientasi kehidupannya tidak mudah goyah hanya berdasarkan apa yang algoritma sajikan di layarnya.

E. Penutup

Media sosial dan algoritmanya bukanlah sesuatu yang harus dimusuhi; karena bagaimanapun banyak dari isinya yang juga bermanfaat bagi pengguna. Namun perlu diketahui dalam menyerap isinya, perlu standardisasi dalam menyaring informasi agar tidak kehilangan kiblat dalam menentukan orientasi. Sebagai perempuan Muslimah, sudah semestisnya Al-Quran menjadi sebaik-baiknya kiblat dalam menuntun cara berpikir dan arah kehidupan di tengah dahsyatnya pengaruh algoritma media sosial.

Algoritma memang hadir layaknya hidangan lezat yang menggugah selera. Namun, tidak semua yang lezat pasti menyehatkan. Begitu pula tidak semua yang menarik perhatian layak dijadikan pijakan kehidupan. Di sinilah Al-Qur’an hadir, bukan untuk menghilangkan rasa ingin tahu manusia terhadap perkembangan zaman, melainkan menjadi penyaring yang membimbing akal, hati, dan langkah agar tetap berada dalam petunjuk Allah. Sebab pada akhirnya, yang menentukan arah hidup seorang Muslimah bukanlah algoritma yang paling mengenali apa yang ia sukai, melainkan Al-Quran – sebagai kiblat kehidupan yang paling mengetahui apa yang benar-benar ia butuhkan.

Referensi

¹ Universitas Negeri Surabaya. “Menelusuri Algoritma Media Sosial: Dampak Personalisasi AI di Platform Digital.”
https://ai.fmipa.unesa.ac.id/post/menelusuri-algoritma-media-sosial-dampak-personalisasi-ai-di-platform-digital

² Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. “Perempuan Kuasai Media Sosial: Dari Koneksi hingga Suara yang Makin Kuat.”
https://ikom.umsida.ac.id/perempuan-kuasai-media-sosial-dari-koneksi-hingga-suara-yang-makin-kuat/

³ BINUS University. “Cara Kerja Algoritma Media Sosial yang Mengatur Feed Kita.”
https://socs.binus.ac.id/2025/11/20/cara-kerja-algoritma-media-sosial-yang-mengatur-feed-kita/

⁴ Heriah Fitria dan Alwizar, “Kajian Pustaka Tentang Isi dan Fungsi Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup Umat Islam,” Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, Vol. 3, No. 2 (2025): 1163–1172.
https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/AlZayn/article/view/1240/6

⁵ Ibn Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Ibn Katsir Surat Al-Baqarah Ayat 2. King Saud University.
https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya2.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here