Kecerdasan Antar Gender: Mengapa Perempuan Seolah Tertinggal?

0
127

Penulis: Salma Amirotuz Zahri
Editor: Yasmin Sholihatul Amalia

Pendahuluan

Pemandangan para pelajar yang duduk dengan pena dan buku di tangan, serius mencatat keterangan penting yang disampaikan guru di hadapannya, merupakan hal yang lumrah ditemui di Masjid Al-Azhar. Sudah selayaknya keseharian Masisir disibukkan dengan kegiatan keilmuan, mengisi ruwaq-ruwaq dan madyafah yang menjamur baik di Darasah, Sabi, maupun Asyir. Tak jarang, mereka harus berebut tempat berdesakan memadati ruang yang tak seberapa luas demi ber-istifadah pada masyayikh.

Selain menghadiri majelis ilmu, beberapa senior Masisir juga berusaha mengamalkan ilmunya dengan mengajar. Banyak berseliweran di berbagai media sosial pamflet-pamflet kajian, dauroh singkat atau bimbingan belajar (bimbel) persiapan ujian yang mana semua itu dibimbing oleh senior Masisir. Namun, ketika kita telisik lebih dalam lagi, ada satu pertanyaan muncul: “Mengapa hal-hal yang berbau keilmuan itu masih didominasi oleh Masisir? Di mana para Masisirwati?”

Lantas apa penyebab kurangnya kehadiran perempuan dalam ruang belajar? Apakah pernyataan ‘laki-laki lebih pintar daripada perempuan’ memang benar adanya?

Perbedaan Kecerdasan Laki-Laki dan Perempuan Menurut Para Ahli

Kata ‘kecerdasan’ berasal dari akar kata ‘cerdas’. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cerdas berarti “sempurna perkembangan akal budinya untuk berpikir, mengerti, dan sebagainya; tajam pikiran; serta sempurna pertumbuhan tubuhnya.” Kecerdasan dalam bahasa Inggris disebut intelligence dan bahasa Arab disebut aldzaka’ artinya adalah pemahaman, kecepatan dan kesempurnaan sesuatu. Dalam artian, kemampuan dalam memahami sesuatu secara cepat dan sempurna.[1]

Beberapa tahun terakhir, para ahli menemukan perbedaan tingkat kecerdasan antara laki-laki dan perempuan. Penelitian Pakkenberg dan Gundersen pada tahun 1997 mengaitkan tingkat kecerdasan seseorang berdasarkan perbedaan jumlah rata-rata neuron neokorteks pada manusia. Jumlah neuron neokorteks pada perempuan mencapai 19 miliar, sedangkan laki-laki mencapai 23 miliar, 4 miliar lebih besar dari perempuan.

Pada tahun 2009 penelitian Rushon & Ankey mengaitkan besar volume otak dengan kecerdasan. Semakin besar otaknya, semakin cerdas pula orangnya. Mereka menemukan fakta bahwa otak laki-laki lebih besar dari perempuan. Rata-rata laki-laki memiliki volume otak 1.260 cm3 dan sekitar 1.130 cm3 pada perempuan.

Akan tetapi, penelitian Zaidi pada tahun 2010 mempunyai kesimpulan berbeda dibanding dua penelitian sebelumnya. Mereka tidak menemukan perbedaan kecerdasan pada laki-laki dan perempuan. Volume dan jumlah saraf neuron juga tidak mempengaruhi perbedaan tingkat kecerdasan seseorang, hanya saja otak laki-laki dan perempuan cenderung beroperasi dengan cara yang berbeda.[2]

Selaras dengan Zaidi yang memandang sama kemampuan otak laki-laki dan perempuan, ulama Islam juga angkat bicara mengenai perbedaan intelektual antargender. Lewat tafsiran hadis perempuan kurang akal, Abu Syuqqah mengartikan naqishat aql bukan ‘kurang akal’ tapi ‘kurang berpikir’. Kekurangan ini terjadi disebabkan struktur sosial yang tidak memberi kesempatan untuk belajar. Jika diberi kesempatan, maka perempuan akan mampu bepikir dengan baik. Begitupun laki-laki, jika tidak belajar dan berlatih, akan kurang kemampuannya dalam berpikir.[3]

Laki-Laki Mendominasi Ruang Belajar

Berdasarkan hasil penelitian di atas, diketahui bahwa para ahli masih berbeda pendapat mengenai benar tidaknya pernyataan laki-laki lebih pintar dari perempuan. Meski belum pasti, kenyataan bahwa laki-laki lebih mendominasi ruang belajar tidak dapat terelakkan. Dalam keramaian majelis ilmu terkadang yang kita jumpai hanya segelintir perempuan, sisanya ruangan dipenuhi oleh laki-laki. Entah karena tempat yang disediakan untuk perempuan memang terbatas atau karena hal lain, yang jelas jumlah perempuan di majelis itu sering tak seimbang dengan jumlah laki-laki.

Dibuktikan dalam dauroh Nahwu & Sharaf di Madyafah Syekh Ismail Shodiq Adawi yang diadakan pada April 2023, terdapat lebih dari 60 orang laki-laki dan lima orang perempuan yang mengikuti dauroh. Begitupun di dauroh Sharaf, laki-laki yang hadir hampir memenuhi ruangan, sedangkan perempuannya tidak sampai sepuluh orang.

Lain kesempatan, program Skill Baca Kitab (SBK) yang diadakan oleh Manhaj Ilmu menarik minat banyak Masisir. Sepanjang empat season, Manhaj Ilmu telah mewisuda 217 Masisir yang terdiri atas 126 laki-laki dan 91 perempuan. Sayangnya, baik di jumlah keseluruhan atau jumlah tiap season, perempuan belum bisa mengungguli laki-laki dalam hal kuantitasnya.

Selain itu, pengajar Masisir juga masih dipenuhi oleh laki-laki. Contohnya, dalam dua tahun kepengurusan Senat Syariah Islamiyyah. Senat telah menunjuk 26 pemateri bimbingan belajar (bimbel) dan murajaah kilat yang mana dari jumlah tersebut hanya ada satu orang perempuan yang ditunjuk menjadi pemateri, selainnya laki-laki.

Di luar program bimbingan belajar (bimbel), senat menunjuk 30 pemateri laki-laki dan dua pemateri perempuan untuk mengisi 12 acara dengan audiens umum. Sementara itu, untuk lima acara khusus perempuan, senat menghadirkan sembilan pemateri perempuan.

Penyebab Dominasi Laki-Laki di Ruang Belajar

Data di atas cukup menunjukkan bahwa dominasi laki-laki di ruang belajar Masisir memang benar adanya. Hal tersebut tentunya dipicu oleh banyak faktor, salah satunya adalah pengaruh budaya patriarki. Efek budaya patriarki yang terjadi pada Masisir berbeda dengan apa yang terjadi di masyarakat umum. Umumnya, di beberapa tempat perempuan masih dibatasi bahkan dilarang bersekolah. Budaya patriarki cenderung mengarahkan perempuan untuk berfokus pada ranah domestik (dapur, sumur, kasur).

Namun, di lingkungan Masisir pembatasan itu tak berlaku, di sini perempuan bisa berekspresi dengan bebas, Azhar dan lingkungan sekitar sangat mendukung Masisirwati untuk mengakses pendidikan, bahkan Azhar memfasilitasi pendidikan dengan sangat baik, entah itu di jami (ruwaq-ruwaq dan madyafah) maupun jamiah-nya.

Efek budaya patriarki yang ada di kalangan Masisir kemungkinan berasal dari kesalahan Masisirwati memahami ‘tanggung jawab suami mendidik istri’. Wajar saja jika mereka berfikir demikian, hidup di lumbung ilmu agaknya meyakinkan Masisirwati untuk berjodoh dengan orang alim, meski kenyataannya belum tentu seperti itu.

Buruknya, doktrin tersebut menyebabkan beberapa Masisirwati menggantungkan perkembangan intelektual dan kapasitas diri mereka sepenuhnya kepada calon pasangan di masa depan, sehingga menyulut sikap pasif dalam menuntut ilmu dan memadamkan motivasinya dalam belajar.

Jika keadaan seperti ini berlanjut, maka cita-cita mewujudkan kesetaraan gender dan menghapus dominasi laki-laki tidak akan pernah tergapai. Laki-laki akan terus menguasai ruang publik, adapun perempuan selamanya mereka hanya akan berkutat dengan urusan rumah tangga.

Yang kedua, pengaruh lingkungan. Seperti yang kita tahu, lingkungan pergaulan Masisir berwarna-warni. Tujuannya memang sama, menimba ilmu di Al-Azhar. Namun kenyataannya, fokus Masisir berbeda-beda dalam menjalani hidup di negeri Mesir. Sejumlah Masisir ada yang mendedikasikan waktu sepenuhnya untuk berburu sanad, bertalaki, dan mengambil istifadah dari para masyayikh. Sebagian yang lain ada yang sibuk mengabdikan diri di ranah organisasi, separuh yang lain lagi aktif merintis dunia bisnis.

Sebenarnya, sah-sah saja memilih lingkungan mana pun, asalkan tidak melupakan status utama sebagai penuntut ilmu. Yang menjadi masalah ketika tidak semua dari kita punya kapasitas untuk balancing (menjaga keseimbangan) di semua bidang. Banyak yang akhirnya terlalu condong ke satu hal hingga mengorbankan hal lainnya. Dampaknya tentu buruk, apalagi jika kecondongan tersebut sama sekali tidak menyentuh aspek akademik. Kita perlu ingat kembali, alasan pertama dan utama Masisir menginjakkan kaki di tanah Mesir ini adalah untuk belajar.

Dalam lingkungan pergaulan, ada sebuah fenomena menarik yang kerap terjadi di kalangan perempuan, meski tidak dapat dipukul rata dan bisa juga terjadi pada laki-laki. Perempuan terkadang memiliki ketergantungan yang tinggi pada kehadiran teman untuk menghadiri suatu acara atau majelis ilmu. Jika ada teman yang menemani, mereka akan berangkat namun jika tidak ada, niat tersebut tidak jadi dilaksanakan.

Hal inilah yang menjadi persoalan. Jika lingkungan pergaulannya positif, tentu mereka dapat saling menyelaraskan diri dan tetap fokus mengejar pencapaian akademik. Sebaliknya, jika lingkaran pertemanan tersebut kurang mendukung, lantas kapan kita akan mulai belajar mandiri tanpa terus-menerus bergantung pada kehadiran atau suasana hati orang lain?

Epilog-Perempuan dan Ruang Belajar

Ironisnya, ilmu tidak bisa didapatkan dengan cuma-cuma, butuh perjuangan yang tak mudah dilakukan untuk mendobrak semua halang rintang. Sebagaimana Aisyah bintu Syati’ sang muffasir wanita pertama mampu meruntuhkan doktrin patriarki ayahnya untuk mengecap pendidikan. Begitu juga wanita Anshar Asma binti Yazid yang karena keberaniannya bertanya kepada rasul dan keistikamahannya dalam menghadiri majelis walau duduk sendiri diantara para sahabat, dia dikenal sebagai wanita jenius pembela hak perempuan bergelar khatibatin nisa’.

Bagaimanapun juga, tidak mustahil bagi perempuan untuk mendominasi ruang belajar sebagaimana laki-laki. Seperti halnya Sayyidah Aisyah binti Abu Bakr menjadi guru dari para sahabat. Karena Islam tidak membatasi perempuan untuk belajar, tidak pula menganggap laki-laki lebih unggul atau lebih pintar dari perempuan. Islam menuntut umatnya baik laki-laki maupun perempuan secara personal untuk menuntut ilmu sepanjang hayat. Dan orang yang bertakwa dan berilmu itulah yang Tuhan janjikan kemuliaan dalam hidupnya baik di dunia maupun di akhirat.


[1]Imam Maksum, “Konsep Kecerdasan dalam Al-Qur’an”, Jurnal Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Ampel Surabaya, Surabaya.

[2]Samsul Anwar, dkk., Jurnal Psikologi Vol 18 No 2 Oktober 2019, 281–296, UIN Syiah Kuala, Banda Aceh.

[3]Qiraah Mubadalah, hlm. 275.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here