Hadis ‘Perempuan Kurang Akal dan Agama’: Salah Paham yang Harus Diluruskan

0
636

Sejak dahulu, pandangan orientalis terhadap Islam sering kali diwarnai oleh prasangka dan pemahaman yang salah, terutama ketika menyangkut relasi gender dalam ajaran agama ini. Salah satu hadis yang kerap menjadi sasaran kritik adalah riwayat tentang perempuan yang disebut sebagai naqishotu ‘aql wa din (kurang akal dan agama). Banyak orientalis menjadikan hadis ini sebagai “bukti” bahwa Islam merendahkan perempuan, mengabaikan konteks, penjelasan ulama, dan hakikat ajaran Islam yang justru memuliakan wanita.   

Padahal, jika ditelusuri secara mendalam, hadis ini sama sekali tidak bermaksud memojokkan perempuan, melainkan mengandung penjelasan spesifik yang harus dipahami dalam bingkai syariat dan realitas sosial saat itu. Klaim-klaim orientalis yang gegabah justru mengabaikan tafsir para ulama, kedudukan perempuan dalam sejarah Islam, serta prinsip keadilan yang dijunjung tinggi oleh agama ini.

Artikel ini akan menjelaskan kesalahan pemahaman orientalis tersebut, mengurai makna sebenarnya dari hadis naqishotu ‘aql wa din, serta membuktikan bahwa Islam—sejatinya—adalah agama yang menjunjung tinggi kehormatan dan hak perempuan. Simak penjelasannya berikut ini!

Pemahaman yang Benar Tentang Tafsiran Kalimat (مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ)

Sebelum beralih ke pembahasan inti mengenai makna hadis “ناقصة عقل و دين”, penting bagi kita untuk memahami tafsiran kalimat (مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ) penggalan dari Qs. an-Nisa’ ayat 3 :

 فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ ذٰلِكَ اَدْنٰٓى اَلَّا تَعُوْلُوْاۗ

Banyak orang mempertanyakan kesesuaian ayat ini dengan situasi zaman sekarang dimana perbudakan telah dihapuskan. Mereka mengira bahwa ketidaksesuaian ini adalah salah satu bukti kecacatan al-Quran. Namun, semua prasangka itu salah. Al-Quran sama sekali tidak memiliki kecacatan karena ia adalah firman Allah yang suci. Syekh Sya’rowi menjelaskan bahwa ketika tidak ada kesesuaian peristiwa di zaman sekarang dengan al-Quran tidak serta merta melemahkan nash, nash syari itu tetap berlaku meskipun tidak ada peristiwa yang sesuai. Seperti halnya sebuah kota yang memberlakukan aturan larangan mencuri dan konsekuensinya meskipun dalam kota itu sama sekali tidak ditemukan pencuri, sampai suatu saat ketika ada seorang pencuri aturan itu bisa diterapkan untuk menghukumnya.

Kata (مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ) bisa diartikan dengan perempuan tawanan perang dalam situasi peperangan yang sesuai dengan syariat Islam dan bukan sekedar pertempuran antar golongan.

Seperti yang kita tahu dalam banyak film dokumenter, sejak zaman dahulu perempuan yang ditawan sering dijadikan budak pemuas nafsu para tentara perang. Mereka dilecehkan dan tidak dihormati layaknya manusia pada umumnya. Akan tetapi, Islam datang melindungi para wanita itu dengan hukum-hukumnya. Allah membolehkan tentara perang untuk menikahi para tawanan tersebut tanpa syarat tertentu, bahkan jika tawanan itu menjadi istri kedua, ketiga atau keempat. Dengan ikatan pernikahan itulah cara Allah mengangkat derajat perempuan tersebut di mata sosial, menjaganya dari pelecehan, dan bahkan memuliakannya.

Maka dari itu, firman Allah (مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ) ini bermaksud untuk memuliakan perempuan, entah itu bermakna perempuan tawanan perang di zaman sekarang, atau budak  di zaman dahulu yang mana ketika dinikahi pemiliknya budak tersebut menjadi merdeka dan menjadi istri sahnya. Dengan cara inilah Islam berusaha menyembuhkan penyakit sosial yang ada di semua masa, dengan menjaga kemuliaan wanita, memerdekakannya, menghargainya, dan meninggikan derajatnya.

Makna “Naqishatu Aql”

Untuk memahami makna hadis ini, kita perlu pemahaman mendalam terkait akal dan athifah. Akal diambil dari kata bahasa Arab al-‘Iqal yang artinya tali kekang unta. Tali ini berfungsi untuk mengendalikan unta agar berjalan di jalannya. Tanpa tali ini, unta akan berjalan sesuai kemauannya sendiri. Begitu juga akal, dia berperan untuk mengendalikan nafsu dan syahwat yang ada dalam diri manusia. Sehingga manusia bisa berjalan pada jalan yang benar. Sedangkan athifah sendiri adalah rasa kasih sayang, belas kasihan, dan kelembutan hati.

Beberapa orang salah memahami makna hadis ini. Mereka menganggap bahwa hadis ini berarti penghinaan bagi perempuan dimana perempuan dianggap lebih rendah kedudukannya karena kurangnya fungsi akal dan agama mereka.

Akan tetapi pemahaman yang sebenarnya tidaklah seperti itu. Sebenarnya, hadis ini berbicara mengenai bagaimana perempuan itu diciptakan. Pada dasarnya perempuan diciptakan dengan rasa athifah yang mendominasi. Ini bukanlah suatu aib bagi perempuan, justru ini adalah sebuah keistimewaan yang Allah berikan kepada para perempuan. Karena dalam melaksanakan tanggung jawabnya, seorang perempuan lebih banyak mengandalkan rasa athifah dibanding akalnya. Dengan kelembutan itulah perempuan mampu menghibur kesedihan, menghapus air mata, dan memunculkan secercah senyuman bagi suami dan anak-anak. Rasa athifah ini pula yang membuat seorang ibu rela berkorban dan berjuang dalam mengemban tanggung jawab beratnya dalam mengandung, melahirkan, menyusui, dan men-tarbiyah anak-anak.

Jika perempuan diciptakan dengan dominasi athifahnya, Allah ciptakan laki-laki dengan dominasi akalnya. Dalam hidupnya, seorang laki-laki lebih banyak membutuhkan akal. Dia adalah orang yang bertanggungjawab untuk mencari rezeki hingga kebutuhan dirinya dan keluarga tercukupi. Akibatnya, ketika dihadapkan dalam suatu perkara, laki-laki akan lebih banyak menggunakan akal daripada perasaan belas kasihan.

Contohnya saja, ketika di akhir bulan, sisa uang tinggal sedikit dan hanya cukup untuk digunakan membeli makanan pokok sehari-hari, namun sang anak menginginkan jajan, maka bapak itu tidak akan memberikan uang yang ia punya untuk menuruti keinginan anaknya untuk jajan, sekalipun sang anak menangis dan memohon untuk dibelikan jajan. Karena jika ia lakukan hal tersebut, maka untuk hari selanjutnya ia tidak akan punya uang untuk makan. Lain halnya jika ibu dihadapkan dengan masalah yang sama, ibu tetap akan memberikan anaknya uang jajan karena rasa ibanya kepada sang anak, bahkan dia rela meminjam uang demi memenuhi keinginan anaknya tanpa berpikir panjang bagaimana caranya mengembalikan uang yang dipinjam.

Dan masih banyak contoh lain yang menunjukkan dominasi perempuan dengan athifahnyadanlaki-laki dengan akalnya. Kendati demikian, dominasi perasaan yang dijelaskan disini tidak berarti perempuan kurang dalam kecerdasannya. Sejarah telah membuktikan banyaknya perempuan yang lebih unggul dibandingkan laki-laki. Diantaranya ada Sayyidah Aisyah, istri nabi Muhammad yang menjadi periwayat hadis terbanyak. Ada juga Ummu Salamah dan istri-istri nabi lainnya yang mengambil peran penting dalam Islam, tak jarang nabi mengambil pendapat-pendapat yang diusulkan oleh ummul mukminin.

Makna “Naqishatu Din”

Makna “Naqishatu din” dalam hadis ini berarti dalam menjalankan kewajibannya perempuan dikaruniai haid dan nifas yang menyebabkan mereka tidak bisa melakukan beberapa ibadah. Namun hal ini tidak bisa difahami bahwa perempuan tersebut kurang beriman, naqishoh disini dimaksudkan untuk mahallu taklidnya, dalam artian ketika haid dan nifas perempuan tidak ditaklif untuk beribadah, bahkan larangan ini tidak mengurangi pahala rutin ibadah yang ia kerjakan ketika masa suci. Dan ini bukanlah suatu cela bagi perempuan, karena ini adalah hal yang sangat dibutuhkan dalam daur hidup seorang perempuan.

Dengan memahami arti secara utuh dan mendalam tentang hadis ini, maka sudah jelas bahwa hadis ini tidak ada unsur merendahkan perempuan seperti apa yang selama ini dipahami oleh orientalis. Allah SWT telah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan baik dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan keduanya dalam hidup mereka. Sehingga dalam hal ini tidak ada pihak yang direndahkan. Hal ini juga selaras dengan konsep ‘musawa’ yang dibawa oleh Islam, semua manusia sama dan setara tanpa membedakan ras ataupun gender.  [Salma]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here