SEMAFSIALAZHAR.MY.ID, Kairo-Rabu, 2 Maret 2022 – Peristiwa Isra Mi’raj terjadi setelah dua orang yang paling dicintai Rasulullah SAW wafat, kedua orang tersebut ialah seorang paman yang paling membela Rasulullah SAW dari kekejaman kaum Quraisy yaitu Abu Thalib dan istri Rasul yang bernama Siti Khadijah. Maka pada tahun tersebut dikenal dengan tahun duka (‘Aamul Huzni) bagi Rasulullah SAW.
Peristiwa penting dalam sejarah agama Islam, yaitu peristiwa pada 27 Rajab tahun ke-10 kenabian Nabi Muhammad SAW, Isra dan Mi’raj. Isra yang mempunyai arti perjalanan dari Masjidil Haram, Makkah menuju Masjidil Aqsha, Yerussalem. Sedangkan Mi’raj yang berarti perjalanan ke Sidratul Muntaha, dimana perjalanan tersebut ditempuh dalam waktu semalam.
Lantas, Rasulullah SAW dibawa naik menuju langit ke-7 dan ditengah perjalanan menuju langit ke-7, Rasulullah SAW bertemu Nabi Ibrahim AS yang sedang menyandarkan punggungnya pada Baitul Ma’mur, Baitul Ma’mur merupakan Ka’bah bagi penduduk langit sebagaimana Ka’bah di bumi sebagai pusat ibadah bagi penduduk bumi, ternyata setiap harinya dimasuki 70.000 Malaikat, mereka tawaf dan berhaji di Baitul Ma’mur yang artinya haji bagi para Malaikat adalah harian, lain halnya dengan manusia yang melaksanakan haji setahun sekali, yaitu pada hari Arafah, sebab jumlah manusia lebih sedikit dibanding para Malaikat.
Kemudian, Malaikat Jibril AS membersamai Rasulullah SAW menuju ke Sidratul Muntaha, Sidratul Muntaha adalah pohon di pintu surga, daunnya bagaikan telinga gajah, buah-buahnya bagaikan guci-guci. Kenapa dinamakan dengan nama ‘Sidratul Muntaha’? sebab ilmu malaikat terbatas sampai disana. Ketika sesampainya Rasulullah SAW di Sidratul Muntaha, terjadilah semacam keindahan serta keagungan disana, gembira dengan datangnya Rasulullah SAW, sehingga keindahan serta keagungan tersebut tidak ada makhluk Allah SWT satupun mampu menggambarkan saking indahnya.
Rasulullah SAW melampaui Sidratul Muntaha, maka beliau melampaui ilmu Jibril AS, ilmu Jibril AS hanya sampai Sidratul Muntaha, sedangkan Rasulullah SAW melampauinya, maka Rasulullah SAW lebih tinggi dari Jibril AS, sebab itu Imam Bushiri rahimahullah menuliskan dalam Qosidah Burdahnya :
ومن علومك علم اللوح والقلم
“Sedang ilmu yang ada di Lauh Mahfudz dan ilmu Qolam adalah bagian dari ilmumu (Rasulullah SAW)”, sebab Lauh Mahfudz dan Qolam berada di Sidratul Muntaha, sedangkan Rasulullah SAW melampauinya, maka termasuk bagian dari ilmunya adalah ilmu Lauh Mahfudz dan Qolam, kemudian Allah memberi pengetahuan sesuatu yang Rasulullah SAW belum mengetahuinya, karunia Allah yang dilimpahkan kepadanya itu amatlah besar.
Allah SWT memberi wahyu kepada Rasulullah SAW, yaitu Allah SWT mewajibkan atas Rasulullah SAW beserta umatnya menunaikan 50 shalat setiap hari dan malam, lalu Rasulullah SAW turun dari Sidratul Muntaha dan bertemu dengan Nabi Musa AS. Nabi Musa AS melihat Rasulullah SAW terdapat keagungan seseorang yang melihat Tuhannya, Nabi Musa AS begitu ingin melihat Tuhannya, minimal tidak terhalangi memandang orang yang memandang-Nya. Nabi Musa AS menghentikan Rasulullah SAW secara khusus dan menanyai Rasulullah SAW, ‘Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas umatmu?’ dan Rasulullah SAW menjawab, ’50 shalat setiap hari dan malam’.
Kemudian, Nabi Musa AS berkata lagi, ‘Kembalilah pada Tuhanmu, mintalah diringankan, sebab umatmu tidak mampu untuk itu, aku sudah menguji Bani Israil sebelummu. Dulu, Bani Israil diwajibkan melakukan 2 shalat setiap hari dan malam, namun mereka tidak memenuhinya. Bagi mereka, sangat banyak dan juga mereka tidak harus berwudhu, 50 shalat? Aku lebih banyak mengetahui dari engkau, karena aku telah menguji Bani Israil. 50 shalat banyak sekali, kembalilah.’
Lantas, Rasulullah SAW kembali ke tempat yang dimana Rasulullah SAW berbicara dengan Allah SWT, sembari berkata, ‘Tuhanku, ringankan umatku’. Lalu Allah SWT mengurangi menjadi 10 shalat setiap hari dan malam, kemudian Rasulullah SAW kembali kepada Nabi Musa AS dan berkata, ‘Tuhanku telah mengurangi menjadi 10 shalat setiap hari dan malam kepada umatku’, Nabi Musa AS berkata, ‘Sungguh umatmu tidak mampu untuk itu, kembalilah pada Tuhanmu dan minta diringankan kembali.’ lalu Rasulullah SAW kembali menghadap Allah SWT dan akhirnya memperoleh keringanan kembali, menjadi hanya 5 shalat setiap hari dan malam.
Sebenarnya Nabi Musa AS masih keberatan dengan 5 shalat tersebut dan menyuruh Rasulullah SAW untuk kembali meminta keringanan, namun Rasulullah SAW berkata, ‘Sungguh aku telah kembali kepada Tuhanku, hingga aku malu pada-Nya.’ Hingga Allah SWT berfirman, ’Wahai Muhammad, sungguh itulah 5 shalat setiap hari dan malam, untuk satu shalat terdapat 10, maka 50 shalat.’ Artinya mewajibkan 50 adalah pahalanya, bukan pekerjaannya, titahnya tidak ada yang diganti di sisi Allah SWT.
Dari penggalan kisah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW diatas, berarti kita mendapat faidah dari nasihat Nabi Musa AS setelah wafatnya, maka ini mendapat faidah dari Nabi setelah wafatnya. Artinya ialah seorang yang hidup mendapat faidah dari Nabi setelah wafatnya Nabi tersebut, bukankah kita hidup? Tetapi kita mendapatkan faidah dari Nabi Musa AS, maka para Nabi di Alam Barzakhnya saja masih bisa memberi faidah kepada orang-orang yang hidup. Seperti sama halnya Nabi Ibrahim AS, ketika memberi salam kepada Rasulullah SAW, ‘ Sampaikan salamku pada umatmu dan kabarkan bahwa surga debunya wangi, airnya tawar dan tanamannya subhanallah wal hamdulillah wa la ilaaha illallah wallahu akbar. Ketika berkata, ‘Sampaikan salamku pada umatmu.’ Kita mengatakan apa dalam tasyahud?
كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم ……. كما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم
‘Sebagaimana Engkau memberi keselamatan kepada Sayyidina Ibrahim AS dan keluarganya,…… Sebagaimana Engkau memberi keberkahan kepada Sayyidina Ibrahim AS dan keluarganya.’
Artinya, kita menjawab salam Nabi Ibrahim AS setiap shalat, salam beliau kepada kita dan kita juga mendapat faidah darinya berupa zikir ‘Baqiyat Shalihat’ Subhanallah wal hamdulillah wa la ilaaha illallah wallahu akbar, maka kita mendapat faidah dari Nabi yang telah wafat, sebab wafatnya para Nabi tidak seperti lainnya, para Nabi hidup di sisi Tuhan mereka, maka kesimpulannya ialah kita bisa mengambil faidah dari para Nabi yang telah wafat, sebagaimana ketika mereka hidup, karena wafatnya mereka adalah hidup, lebih lapang dan lebih sempurna dari kehidupan dunia mereka. Wallahu A’lam.
*diambil dari faidah dars Maulana Syekh Yusri Rusydi al-Hasani hafizhahullah tentang Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
جاءَنا ليلةُ المِعراجِ النبي * أُسرِي بأية الحكيم
قد أسْري بهِ ربُّ العالمينَ * حِكمة أسوة بالمرسلين
أحمد الهاشم شفيع الأمم * أسوة آخر الزمان
من المسجد المحرَّم * إلى المسجد المقدَّس
راحِلا بالبراق الجميل الأمين * والمَلكانِ حولَهُ
فيُرى أنواعُ المبشراتِ * اِعتِبارًا لهٰذه الأمةِ
ثم يُصعَدُ للسماء العلي * يَنتَهي بِبَيتِ المعمورِ
Penulis : Rifky Ramadhani As’at









