SEMA FSI Selenggarakan Seminar Khoritotul Ulum untuk Para Mahasiswa Baru Fakultas Syari’ah Islamiyah 21/22

0
488

SEMAFSIALAZHAR.MY.ID, Kairo-Ahad, 3 April 2022 – Para penuntut ilmu terutama mahasiswa baru, seringkali belum mengenal tahapan-tahapan belajar yang ideal, beserta kitab-kitab yang cocok bagi mereka, sampai tempat-tempat talaqinya yang menunjang perjalanan keilmuannya. Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia mempunyai umur yang terbatas, sedangkan ilmu sangatlah luas dan amat mendalam, dengan umur yang singkat, maka kita perlu mengetahui tahapan belajar yang efektif. Demi mencegah agar para penuntut ilmu tidak salah langkah dalam mengarungi samudera keilmuan dan berakibat pada kurang efisien memanfaatkan waktu belajar selama di Mesir, maka Senat Mahasiswa Fakultas Syari’ah Islamiyah (SEMA FSI) menyelenggarakan kegiatan bertajuk ’Seminar Khoritotul Ulum’ yang bertujuan untuk memahami pemetaan keilmuan dan tahapan pembelajarannya.

Seminar ini diadakan pada hari Ahad (27/3) lalu, berlangsung pukul 10:00-15:00 WLK, bertempat di Aula Limas KEMASS, Hay ‘Asyir, Kairo. Diantara materi atau pesan yang disampaikan oleh Ustaz Ridwan Misbah, Lc., yaitu “bahwasanya ilmu itu butuh kepada 2 hal, yang pertama adalah ta’rif, alasannya adalah :

“الحكم على الشيء فرع عن تصوره”

Contohnya kita tidak akan mengetahui pengertian bahwa ‘sholat itu wajib’, apabila kita tidak mengetahui pengertian ‘sholat’ itu apa? Pengertian ‘wajib’ itu apa?, sebaliknya kita akan mengetahui pengertian ‘sholat itu wajib’, apabila kita mengetahui pengertian dari ‘sholat’ dan ‘wajib’. Maka dari itu, ilmu membutuhkan sebuah ta’rif. Kedua, ilmu butuh kepada dalil. Karena semua ilmu itu adalah hasil statement dari para ulama, yang bentuknya argumen bukan asumsi. Argumen yang didalamnya ada sebuah dalil, yang banyak akan kalian temui didalam kitab-kitab turots.”

Foto bersama pemateri dan wakil presiden PPMI Mesir 21/22

                Didalam perjalanan seorang pencari ilmu yang mengarungi samudera keilmuan, terdapat tingkatannya, dan tingkatan tersebut dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu mubtadi, mutawassith dan muntahi.

1. Mubtadi, siapa itu seorang mubtadi?

من ليس له تصور أصلا في مسائل العلم

Mubtadi adalah seseorang yang tidak mempunyai bayangan atau gambaran sama sekali akan permasalahan ilmu.

Hal pertama yang harus dipelajari seorang mubtadi ialah  “تعارف بالمصطلاحات” mengenal istilah-istilah ilmu yang ingin dia pelajari, bagaimana kita akan memahami sebuah ilmu, sedangkan kita tidak mengetahui istilah-istilah didalam ilmu tersebut?. Kedua, yang harus dipelajari seorang mubtadi ialah “تعارف بالمسائل” mengenal permasalahan ilmu, ketika seorang mubtadi dihadapkan dengan permasalahan ilmu, maka ketika itu pula seorang mubtadi disediakan kitab-kitab matan kecil, supaya mengetahui permasalahan suatu ilmu itu apa?, hal terakhir yang disarankan untuk dilakukan seorang mubtadi, yaitu ” قراءة عشوائية ” belajar atau membaca kitab turots apapun secara acak, guna mengetahui istilah-istilah di berbagai fan ilmu, dengan syarat menahan diri sebagai seorang mubtadi. Setelah rampung 3 hal ini di diri seorang mubtadi, maka dipersilahkan untuk melanjutkan di tingkatan selanjutnya, yaitu mutawassith.

2. Mutawassith, siapa itu seorang mutawassith?

من له تصور في مسائل العلم وليس له قدرة في الاستدلال

Mutawassith adalah seorang yang mengetahui permasalahan ilmu, namun tidak mempunyai kepiawaian atau kemampuan dalam berdalil.

Satu hal yang perlu dilakukan di tingkatan mutawassith adalah ”تعارف بدلائل العلوم ” harus mengenal atau mengetahui dalil-dalil suatu permasalahan ilmu, disaat ini pula mulai pelan-pelan mengurangi untuk belajar atau membaca kitab secara acak dan memulai untuk belajar secara berurut dengan benar apa yang ingin ia fokuskan. Apabila berjalan keilmuannya dengan benar, maka seorang pencari ilmu akan sendirinya tertuntun ke tingkatan terakhir, yaitu muntahi.

3. Muntahi, siapa itu seorang muntahi?

من له تصور في مسائل العلم وله قدرة في الاستدلال

Muntahi adalah seorang yang mengetahui permasalahan ilmu dan mempunyai kepiawaian atau kemampuan dalam berdalil.

Untuk menempuh perjalanan keilmuan hingga ke tingkatan muntahi tidaklah sebentar, karena tuntutan menjadi seorang muntahi amatlah besar, yaitu “تعارف بالخلافيات والاعتراضات والمناقشات في العلم” sudah mapan dalam keilmuan, serta telah terbentuk malakah keilmuan didalam otak seorang pencari ilmu tersebut, sehingga sudah paham betul akan semua permasalahan keilmuan, maka ia pantas berada didalam tingkatan muntahi ini.

                Diakhir materinya, Ustaz Ridwan Misbah, Lc. berpesan untuk peserta yang hadir bahwasanya “Jangan pernah berfikir ilmu kalian itu selesai sampai kalian lulus kuliah, tidak sama sekali! Tetapi keilmuan kalian itu sampai kalian mati, bukanlah yang kalian bawa ke Indonesia nanti itu adalah hafalan yang kalian hafalkan ketika kuliah itu, bukan juga rangkuman yang duktur berikan. Muqorror kalian akan mati setelah imtihan, apa yang dibawa ke Indonesia nanti? yaitu tidak lain dan tidak bukan, melainkan yang kalian bawa nanti itu ialah ilmu-ilmu yang ada di kitab-kitab rujukan, yaitu kitab turots.”

ستجد مائة صارف عن العلم عندما تعزم لطلب العلم ( الشيخ حسام رمضان حفظه الله تعالي )

“Saat kamu sudah berazam untuk menapaki jalan ilmu, saat itu pula seratus cobaan akan menghentikan (langkah-langkahmu).”

Penulis : Rifky Ramadhani As’at

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here