Azhariyyah, Mampukah Mengambil Peran Dakwah?

0
102

Di tengah hujan stigma masyarakat umum tentang kedudukan perempuan sebagai masyarakat kelas dua, kembalinya azhariyyah ke bumi tanah air diharap dapat menjadi angin segar bagi kalangan perempuan di Indonesia. Azhariyyah yang kembali ke Indonesia dengan membawa ilmu dan pengalaman diharapkan memiliki kemampuan untuk meluruskan pandangan keliru mengenai peran perempuan dalam masyarakat. sehingga pemahaman-pemahaman yang tidak benar tentang perempuan bisa perlahan-lahan dihapus.

Selanjutnya, upaya ini tentu akan menimbulkan pertanyaan dengan kembalinya azhariyyah ke Indonesia : Apakah seorang azhariyyah bisa mematahkan stigma masyarakat dan kemudian berhasil mengambil peran dakwah di lingkungan yang baru? Mengingat banyaknya perbedaan kondisi sosial geografis di Mesir dengan di Indonesia.

Beberapa realitas sosial di Indonesia yang nantinya harus dihadapi langsung oleh azhariyyah sangat kompleks. Terutama yang berkaitan dengan muamalah antarindividu baik dengan sesama perempuan ataupun dengan laki-laki. Kendala budaya dan sosial dengan norma tradisional, yang menuntut kecenderungan seorang perempuan untuk berdiri diposisi domestik sebagai ibu dan istri, tanpa melihat seorang perempuan sebagai sosok perempuan itu sendiri menjadi salah satu realitas sosial yang nantinya harus dihadapi oleh azhariyyah saat terjun ke maysrakat.

Kemudian, ketidakpercayaan diri seorang azhariyyah sebab khawatir pada respon masyarakat memperparah keadaan tersebut. Adanya pemikiran masyarakat bahwa perempuan harus selalu sempurna berpotensi membuat azhariyyah mengurungkan niatnya untuk terjun ke masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk membangun dukungan satu-sama lain antar-azhariyyah di Indonesia sehingga seorang azhariyyah tidak merasa sendirian dan terombang-ambing dalam upaya dakwahnya. Dengan demikian, azhariyyah sebagai pengembang dakwah terselamatkan dari perasaan-perasaan negatif akibat stigma masyarakat yang pasti akan menerpanya.

Kondisi realitas sosial masyarakat Indonesia telah menjadi fokus Al-Azhar sejak lama. Al-Azhar menyatakan bahwa terdapat miskonsepsi masyarakat tentang cara pandang islam terhadap perempuan. Sebenarnya, Islam adalah agama pertama yang membebaskan perempuan dari banyak belenggu yang pernah menahan mereka. Islam juga sangat menghormati dan menghargai keberadaan perempuan bahkan meletakkan banyak keistimewaan pada seorang perempuan.

Mengutip dari kumpulan ceramah Syekh Mutawalli Sya’rawi, syekh Al-Azhar, perempuan diperbolehkan melakukan kegiatan di lingkungan publik dengan syarat tidak melalaikan urusan-urusan yang menjadi tugas pokoknya sebagai seorang perempuan. Syekh Sya’rawi menyebutkan bahwa tugas pokok perempuan meliputi hamil, melahirkan, menyusui dan kemudian tarbiyatul aulad. Serta tentu saja aktivitas muslimah diruang publik harus selaras dengan nilai – nilai Islam. (الشعراوي)

Al-Azhar sendiri memfasilitasi pendidikan bagi para perempuan yang berkeinginan kuat untuk melanjutkan studi setinggi-tingginya. Bahkan hadirnya kuliyyat lil banat terinspirasi oleh Bunda Rahmah el-Yunusiyyah seorang perempuan Indonesia pendiri Sekolah Diniyah Putri Padang Panjang. Beliau kemudian menjadi perempuan pertama yang menyandang gelar Syaikhah dari Al-Azhar.

Pada kesempatan dakwah dan partisipasi sosial pun, Al-Azhar tidak membatasi hanya pada kalangan laki-laki saja. Perempuan juga berkesempatan untuk tetap berkontribusi pada beberapa acara publik yang dilaksanakan di masjid Azhar. Seperti di antaranya pembacaan kitab, syair, dan hadist. Meski dalam realitanya potensi partisipasi perempuan dalam acara-acara di masjid masih dipengaruhi oleh kebijakan dan pandangan masyarakat sekitar yang berbeda antara satu generasi dengan generasi lainnya.

Grand Syekh Azhar Dr. Ahmad Thayib, Al-Azhar dalam kepemimpinannya, berkomitmen untuk memperkuat peran perempuan dalam ruang publik. Peran khusus di lingkungan publik yang sudah diisi oleh perempuan di antaranya adalah posisi asisten sekretaris jendral Majma’ Buust Al-Islamiyah yang diisi oleh Dr. Ilham Muhammad Fathi Syahin, seorang ulama perempuan dari Al-Azhar. Ini menujukkan bahwa Al-Azhar mempercayai peran perempuan untuk menempati posisi-posisi strategis yang berpengaruh di tingkat nasional.

Seorang azhariyyah yang menjadi cerminan hasil dari tempaan pendidikan Al-Azhar, diharapkan mampu menjadi agen perubahan di manapun ia berada. Kemudian ia menyebarkan kepada masyarakat tentang prinsip wasathiyah Al-Azhar yang toleransi dan kolaborasi antara keimbangan tradisi dengan modernitas tanpa keluar dari syariat Islam.

Seseorang azhariyyah tentunya telah dibekali banyaknya kepercayaan Al-Azhar terhadap sosok perempuan, serta bekal keilmuan yang sudah didapat selama menempuh pendidikan di Al-Azhar. Harapannya bekal tersebut sudah lebih dari cukup untuk menjadikan seorang azhariyyah teladan dan role model masyarakat dalam menjadi pribadi yang baik dan menjalankan syariat dalam setiap helaan nafas kehidupan.

Kualitas pemikiran dan kiprah azhariyyah juga menjadi tolok ukur dan bukti nyata bahwa Islam tidak pernah mengekang keberadaan seorang perempuan. Islam justru malah mendukung perempuan dan mimpinya untuk terus menjadi besar dan berkembang. Bahkan Islam juga meletakkan perempuan di posisi yang istimewa.

Kemudian, salah satu hal yang dapat dilakukan oleh azhariyyah untuk berkontribusi secara langsung kepada lapisan masyarakat yang terpinggir di Indonesia, ialah dengan cara melakukan pengadaan forum-forum pendidikan. Pengadaan tersebut sebagai upaya terdekat dengan masyarakat yang memiliki kesulitan dalam akses pendidikan. Pada beberapa kasus, bukan mereka yang kesulitan mengakses pendidikan, melainkan memang tidak adanya lembaga pendidikan yang tersedia didaerah di kawasan tinggal mereka.

Demikian Al-Azhar sebagai salah-satu institusi pendidikan tertua di dunia menjadi bukti dan contoh nyata bahwa Islam yang menjadi dasar didirikannya Al-Azhar Asy-syarif tidak pernah mengekang perempuan. Sehingga bila ada stigma masyarakat yang menyudutkan Islam dan perempuan di dalamnya, tentu saja perkataan tersebut tidak berdasar Islam dan bisa dibantah dengan jelas.

Berikutnya banyak sekali peran yang bisa diambil seorang azhariyyah untuk berkontribusi di jalan dakwah dan membawa nama besar Al-Azhar dalam syiarnya. Salah satu hal yang dapat dilakukannya kembali kepada asal keberadaan Al-Azhar itu sendiri yaitu pendidikan. Terlebih pendidikan adalah jawaban atas banyak sekali permasalahan yang tersebar di negara tercinta kita, Indonesia.

Oleh : Aisyah Binti Kurniawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here