KEUNGGULAN ALUMNI AL AZHAR DALAM EFISIENSI DAKWAH DI NUSANTARA

0
68

Pendahuluan

Alumni kampus timur tengah selalu identik dengan dunia dakwah, bahkan sudah menjadi kewajiban moral buat mereka di tengah masyarakat terlepas dari jurusan apa yang mereka ambil. Khususnya alumni Al Azhar Mesir, yang mana citra sebagai pelindung “Ilmu Turost” di dunia Islam telah disematkan kepadanya sejak lama. Maka sudah menjadi keharusan bagi setiap “Azhary” untuk dapat mengimplementasikan nilai dakwah dengan baik dalam setiap peran yang ia jalani di tanah air.

Pembahasan

Dakwah atau dalam padanan asli arabnya “Da’wah” yang berarti menyeru, merujuk pada setiap kegiatan yang dimaksudkan untuk mengajak orang dalam kebaikan dan mencegah kumangkaran. Bahkan menurut ulama, setiap usaha untuk menopang sistem dakwah itu sendiri termasuk dari bagian dakwah juga.

Pada dasarnya seluruh nilai-nilai dakwah sudah tersiratkan dalam setiap lini kehidupan baginda Nabi SAW, yang mana beliau selama hidupnya bukan hanya sebagai penceramah yang menyeru manusia kepada Syariat melainkan juga sebagai pedagang dan sebagai pemimpin negara. Sehingga disimpulkan dari sini bahwasanya dakwah bukan hanya berbicara soal ceramah di atas mimbar, melainkan implementasi nilai-nilai dakwah ke dalam setiap lini kehidupan.

Kemudian ketika berbicara soal implementasi dakwah yang bisa dilakukan oleh mahasiswa Al Azhar sendiri di tanah air, perlu kita runutkan di sini apa yang sebenarnya dialami oleh mereka di Mesir, kemudian tantangan dakwah yang menunggu mereka ke depan, dan prinsip Al Azhar terkait strategi dakwah.

Toleransi Beragama Dan Persatuan Umat

Tuntutan toleransi beragama di Indonesia cukup signifikan. Corak budaya setempat berbaur dengan ajaran Islam yang datang dari luar, belum lagi perbedaan mazhab dari timur tengah, cukup mewarnai kultur keislaman di Nusantara. Sehingga dari sini diperlukan dakwah wasathiyah yang dapat menampung semua keberagaman tadi agar terciptanya persatuan umat dan menghadirkan kesadaran bahwa disamping banyaknya perbedaan, kita tetap lah umat yang satu, umatnya baginda Nabi SAW, itulah salah satu misi global Al Azhar terhadap dunia Islam, sebagaimana ditegaskan oleh wakil Al Azhar, Prof. Muhammad Ad Duwayni bahwa persatuan di segala lini adalah solusi untuk banyaknya krisis yang sedang dihadapi oleh umat Islam.

Para mahasiswa Indonesia di Mesir atau biasa kami sebut “Masisir” adalah representasi kemajemukan kaum muslimin di Nusantara. Kultur beragama dari berbagai daerah yang beragam, bercampur dalam satu identitas yang padu, yaitu “Azhary”. Dari sisi itu lah Masisir dianggap bisa lebih terbuka dan toleran dengan setiap kultur yang beragam dari daerah lain, entah itu keberagaman kulturnya atau bahkan tabiat orang-orangnya.

Pun sejalan dengan prinsip “Wasathiyah” yang digaungkan oleh Al Azhar, Masisir diharapkan bisa menjadi contoh prinsip itu di tengah kemajemukan kultur yang mereka alami. Sehingga ketika ia terjun ke masyarakat, ia tidak lagi latah dengan banyaknya perbedaan. Inilah yang menjadi poin kelebihan Masisir ketika berdakwah di tanah air.

Kefleksibelan Peran

Tuntutan dakwah yang efisien mengharuskan adanya kolaborasi antar banyak pihak, mulai dari ustadz sampai pemerintah. Tidak cukup jika semua dibebankan kepada para penceramah saja, karena sebagaimana yang sudah saja jelaskan di awal bahwa tugas dakwah bukan hanya dibebankan kepada ustadz, melaikan ke semua muslim.

Sistem kuliah yang diterapkan di Universitas Al Azhar, memberikan banyak keleluasan kepada mahasiswanya dalam mengeksplorasi berbagai bidang yang diminati di luar perkuliahan, sehingga Masisir mempunyai banyak kesempatan yang tidak dimiliki oleh mahasiswa pada umumnya.

Banyaknya kesempatan itu menghantarkan Masisir pada lingkup dakwah yang lebih fleksibel dan tidak terbatas pada ruang khutbah saja. Ada yang senang berbisnis, maka dia mampu berdakwah lewat bisnisnya, ada yang senang menjadi Content Creator maka dia bisa berdakwah lewat kontennya, ada yang senang dengan dunia Freelance atau Industrial maka dia juga bisa berdakwah lewat skill-nya.

Di buku “As Sohwatu Al Islamiyah”, Prof. Yusuf Al Qardhawi menjelaskan salah satu penyebab gagalnya pendidikan atau dalam konteks ini dakwah adalah ketidak selarasan antara pihak sekolah dengan pihak pertelevisian. Menurut beliau tontonan yang ditayangkan di TV itu merobohkan apa yang sudah dibangun oleh guru di sekolah. Guru dengan susah payahnya membentuk karakter siswanya, tapi tontonan di TV malah menayangkan orang-orang yang tidak berkarakter.

Demikian juga halnya dalam dunia dakwah, para penceramah sudah berusaha membangun karakter masyarakat, tapi seringkali pihak lain justru malah merusak karakter itu, tentunya dengan dalih kalau berdakwah bukanlah tugas mereka.

Situlah peran Masisir dibutuhkan untuk mengisi dakwah di berbagai sektor. Sehingga terciptalah suatu keselarasan nilai antara ustadz dengan semua pihak. Hal ini akan sangat berdampak dalam keberhasilan dakwah itu sendiri di masyarakat.

Kepercayaan Masyarakat

Berbeda dengan kampus timur tengah lainnya seperti Universitas Islam Madinah (UIM), Al Azhar yang dikenal moderat relatif lebih diterima oleh masyarakat Indonesia, hal ini berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap alumninya.

Dalam berdakwah, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membangun kepercayaan masyarakat. Layaknya seorang penjual, pembeli tidak akan membeli darinya jika dia tidak percaya pada barang yang dia jual atau bahkan tidak percaya pada orang yang menjualnya, maka demikian halnya dalam berdakwah, karena intisari dakwah adalah bisa membuat orang lain menerima ajakan kita.

Kesimpulan

Demikianlah, untuk menghadirkan dakwah yang efisien dibutuhkan metode dan komponen-komponen yang tepat dalam menjalankannya. Dan diantara komponen utama tadi, Masisir yang belajar dengan benar di Mesir dipastikan mempunyai itu semua, sehingga akan memudahkan dakwahnya kelak di tanah air.

Oleh : Abdullah Yahya Ayyas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here