Regresi Makna Produktif di Tengah Iklim Kebebasan Mahasiswa Mesir

0
214

Oleh: Fadhel Muhammad
Mawapres FSI 2025 | Penulis buku Seandainya

Tidak ada tempat yang lebih menguji makna produktif selain Mesir.

Ironisnya, yang paling sering membuat seorang mahasiswa kehilangan waktunya bukanlah kemalasan, melainkan kebebasan. Ketika tidak ada lagi bel sekolah, absensi harian, ataupun orang tua yang mengatur ritme hidup, produktivitas tidak lagi ditentukan oleh sistem yang memaksa kita bergerak, tetapi oleh kemampuan mengarahkan diri. Untuk pertama kalinya, waktu membentang luas dan sepenuhnya berada di tangan kita.

Namun, kebebasan yang belum pernah dimiliki ini datang membawa pisau bermata dua. Ia dapat menjadi jalan menuju kematangan, tetapi juga dapat menjadi pintu menuju kehilangan arah. Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan betapa berharganya waktu.

والوقت أنفس ما عنيت بحفظه، وأراه أسهل ما عليك يضيع

“Waktu adalah sesuatu yang paling berharga untuk engkau jaga, namun anehnya, ia juga yang paling mudah hilang darimu.”

Bahkan Al-Qur’an berkali-kali bersumpah dengan waktu: wal-‘ashr, wad-duha, wal-fajr, wal-lail. Para ulama menjelaskan bahwa sumpah Allah menunjukkan agungnya sesuatu yang dijadikan objek sumpah. Seakan-akan Islam ingin mengingatkan bahwa umur manusia tidak diukur oleh panjangnya tahun, tetapi oleh bagaimana waktu itu digunakan.

Sayangnya, di tengah kebebasan itu, makna produktif perlahan mengalami distorsi.

Banyak mahasiswa mengira produktif berarti memiliki jadwal yang padat. Selama hari-harinya dipenuhi organisasi, rapat, diskusi, kepanitiaan, perjalanan, nongkrong, atau sekadar berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, ia merasa telah memanfaatkan waktunya dengan baik. Kesibukan akhirnya dijadikan ukuran produktivitas.

Padahal, sibuk dan produktif adalah dua hal yang sangat berbeda.

Produktivitas tidak diukur dari seberapa penuh kalender kita, melainkan dari seberapa dekat setiap aktivitas membawa kita kepada tujuan yang ingin dicapai. Aktivitas yang tidak menggerakkan kita menuju tujuan, meskipun menguras tenaga dan waktu, pada hakikatnya hanyalah kesibukan yang diberi nama produktivitas.

Di sinilah terjadi regresi makna produktif.

Produktivitas yang semestinya berorientasi pada tujuan (goal-oriented) bergeser menjadi berorientasi pada aktivitas (activity-oriented). Yang dihitung bukan lagi perkembangan diri, melainkan banyaknya agenda. Yang dibanggakan bukan lagi kualitas hasil, tetapi padatnya kesibukan. Akibatnya lahirlah paradoks yang menyedihkan: kita merasa sangat lelah, tetapi tidak benar-benar bertumbuh.

Fenomena ini terasa semakin nyata di kalangan mahasiswa Mesir.

Sebagian besar dari kita datang dengan mimpi yang sama: memperdalam bahasa Arab, duduk di majelis para masyaikh, membaca kitab-kitab turats, dan pulang membawa bekal ilmu yang kelak menjadi manfaat bagi umat. Kita meninggalkan keluarga, tanah air, bahkan kenyamanan hidup demi sebuah cita-cita yang bernama ilmu.

Namun perlahan, tujuan itu mulai kabur.

Hari-hari dipenuhi rapat organisasi, diskusi yang tidak selalu produktif, media sosial, perjalanan, hingga nongkrong yang berkepanjangan. Tidak ada satu pun aktivitas tersebut yang selalu salah. Masalahnya muncul ketika semua itu mengambil porsi yang lebih besar daripada tujuan utama mengapa kita datang ke negeri ini.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah lahirnya status quo.

Ketika hampir semua orang menjalani pola hidup yang sama, kita berhenti mempertanyakan apakah pola itu memang benar. Kita mulai mengukur produktivitas berdasarkan standar lingkungan, bukan berdasarkan tujuan. Selama semua teman sama-sama sibuk, kita merasa tidak sedang kehilangan apa pun. Padahal, bisa jadi yang hilang adalah alasan terbesar mengapa kita berada di Mesir.

Bayangkan seseorang diterima di fakultas kedokteran, tetapi selama kuliah lebih sibuk dengan berbagai aktivitas di luar kedokteran hingga hampir tidak pernah membuka buku medis. Hampir semua orang akan mengatakan bahwa ada sesuatu yang keliru.

Lalu mengapa logika yang sama terasa begitu biasa ketika terjadi pada mahasiswa yang datang ke Mesir untuk belajar ilmu agama?

Benar, tidak semua mahasiswa Al-Azhar harus menjadi ulama besar. Setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Namun hampir mustahil menjelaskan mengapa seseorang rela meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan bertahun-tahun usianya untuk belajar di salah satu pusat keilmuan Islam terbesar di dunia, jika ilmu justru bukan prioritas utamanya.

Di sinilah the paradox of freedom menemukan relevansinya.

Semakin besar kebebasan yang ada di genggaman, semakin brutal tingkat disiplin diri yang dituntut. Kebebasan tanpa orientasi yang tajam hanya akan melahirkan penundaan, distraksi, dan manusia-manusia yang kehilangan arah. Ironisnya, kita sering membius diri sendiri dengan ilusi kemajuan.

Kita merasa berkembang karena menghadiri banyak rapat. Kita merasa bertumbuh karena memiliki banyak aktivitas. Kita merasa telah mengisi waktu dengan baik karena hampir tidak pernah memiliki waktu luang. Padahal, belum tentu semua itu membawa kita lebih dekat kepada tujuan.

Di balik seluruh kesibukan itu, terdapat opportunity cost yang sering kali tidak kita sadari.

Setiap jam yang dihabiskan untuk sesuatu yang tidak esensial sesungguhnya adalah pengorbanan atas kesempatan lain yang jauh lebih bernilai: satu majelis ilmu yang terlewat, beberapa halaman kitab yang tidak jadi dibaca, hafalan yang tertunda, atau diskusi ilmiah yang tidak pernah terjadi. Semua itu mungkin tampak kecil hari ini, tetapi akan terasa sangat mahal ketika masa belajar di Mesir telah berakhir.

Waktu selama menjadi mahasiswa di Mesir adalah kesempatan yang tidak dapat diulang. Ia bukan sekadar fase kehidupan, melainkan amanah yang suatu hari akan berubah menjadi penyesalan atau rasa syukur, bergantung pada bagaimana kita mengisinya.

Karena itu, sudah saatnya kita membangun ulang definisi produktivitas.

Produktif bukan berarti melakukan lebih banyak hal. Produktif adalah melakukan lebih banyak hal yang mendekatkan kita kepada tujuan.

Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan setiap malam bukanlah, “Seberapa sibuk aku hari ini?”

Melainkan, “Apakah apa yang kulakukan hari ini benar-benar mendekatkanku kepada tujuan aku datang ke Mesir?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here