Menyeimbangkan Instabilitas Prinsip Syariah dan Kehidupan Bermasyarakat

0
454

Di tengah derasnya arus perubahan zaman, muslimah kerap dihadapkan dengan tantangan untuk menyeimbangkan antara identitas agamanya dengan dinamika kehidupan modern. Islam sangat memuliakan kedudukan seorang muslimah dan sebagai agama muslimah itu sendiri, tentunya Islam membawa segudang syariat yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya pada kehidupan spiritual saja, tapi juga pada kehidupan bermoral, berpakaian, hingga kehidupan sosial.

Syariah secara etimologi mengakar pada bahasa arab itu sendiri yaitu “syara`a” (شرع) yang berarti menunjukkan jalan atau membuka jalan menuju sumber air, dan seiring berkembangnya zaman, terjadi perkembangan makna dalam kata itu, sehingga syariah kini kerap diartikan sebagai jalan hidup yang ditetapkan oleh Allah.

Syariah seringkali dikaitkan dengan peraturan hidup yang tergambarkan bahwa hukum itu bersifat mengekang, padahal dibalik itu, Islam tidak pernah mengekang ataupun membebani seorang hamba diluar kemampuannya untuk menjalankannya. Syariah tidak hanya mencakup kehidupan spiritual seperti ibadah shalat, puasa, zakat, dan sebagainya saja, melainkan syariah juga tumbuh dalam aturan-aturan yang memuliakan peran muslimah.

Muslimah saat ini  memiliki peran dan tanggung jawab yang lebih besar, saat ini kita merasakan timbulnya instabilitas antara prinsip beragama dan kehidupan bermasyarakat, diantara sebabnya ialah krisisnya identitas muslimah pada hari ini, yang mengikuti standar media sosial, kemudian yang menjadi sebab lainnya ialah semakin berkembangnya teknologi yang juga berdampak pada beralihnya pusat perhatian masyarakat pada alat komunikasi yang semakin canggih, sehingga menyebabkan turunnya minat membaca dan berdiskusi pada sebagian masyarakat.

Standar media sosial sangat berdampak pada kehidupan seluruh umat muslim di dunia. Dampak baiknya masyarakat dunia mungkin mendapat banyak informasi dan pengetahuan baru dari apa yang mungkin sebelumnya belum pernah mereka dapatkan, seperti life hacks dan sebagainya. Adapun dampak buruknya, standar media sosial kian hari semakin tidak memperhatikan tatanan moral dan spiritual, orang-orang tidak hanya berlomba-lomba untuk menjadi populer di media sosial, tetapi juga saling menciptakan trend agar diikuti khalayak.

Begitu pula dengan sisi baik dari perkembangan teknologi ialah bertambahanya kecanggihan alat komunikasi yang membuka akses informasi dunia dan memudahkan proses penyampaian pada masyarakat dunia, juga sebagai sumber kreativitas manusia. Namun dibalik itu, perkembangan alat komunikasi juga membawa dampak yang perlu dihindari, karena saat ini alat komunikasi tidak serta merta hanya sebagai sarana penghubung, tetapi juga menjadi sumber informasi yang tidak relevan bagi umat muslim, diantaranya ialah penyampaian informasi yang tidak layak untuk dikonsumsi khalayak, penciptaan trend-trend yang dapat menurunkan harga diri seorang muslimah, dan sebagainya.

Krisis identitas sebagai seorang muslimah dapat membawa nama dan kehormatan perempuan dalam Islam menurun dan ini adalah hal yang fatal, muslimah yang seharusnya menjaga kehormatan dan nama baiknya, alih-alih mengabaikan syariah yang telah ditetapkan.  Saat mengalami krisis identitas, beberapa diantara mereka mungkin memahami hakikat hukum Islam, tetapi memilih untuk meninggalkannya karena tidak sesuai dengan keinginannya atau tidak sesuai dengan standar yang diikutinya. Hal ini berkaitan erat dengan berkembangnya teknologi yang juga menjadi faktor ketidakseimbangan prinsip beragama dan bermasyarakat dengan berkembangnya teknologi, informasi dapat diproses dengan cepat dan dapat disampaikan secara luas, serta mendukung para perempuan yang krisis identitas keislamannya untuk menyebarkan informasi dan standar buatan kepada umat muslim lainnya di dunia ini.

Solusi yang bisa dilakukan saat ini ialah membangun kesadaran di tengah derasnya arus standar media sosial yang semu, karena penting bagi seorang muslimah untuk senantiasa mengingat bahwa jiwa dan diri muslimah itu sendiri sangat berharga, sebagaimana Islam datang membawa keselamatan bagi seluruh perempuan dan menaikkan martabat muslimah  mengingat pada zaman jahiliyah perempuan dikubur hidup-hidup, bahkan tidak memiliki kesempatan untuk sekedar melihat cahaya dunia.

Perempuan pada zaman ini, seharusnya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah berikan dengan mengusahakan segala hal yang mendukung pertumbuhan jiwa dan mental seorang muslimah seperti, aktif pada organisasi yang dapat memperkuat relasi hubungan pertemanan yang baik, bergabung pada suatu komunitas yang bermanfaat, aktif mengikuti kajian dan mengikuti kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya dalam batas koridor syariah, sehingga aktivitas yang dilakukan tetap berjalan sebagaimana yang telah Allah tetapkan.

Maka dari itu, mari bersama-sama menyatukan visi yang selaras untuk membangun generasi yang mulia dan berakhlakul karimah sebagai muslimah sejati dengan menetapkan standar keinginan, kebutuhan, dan perbuatan berdasar pada ridha Sang Ilahi yakni melalui syariah yang telah ditetapkannya di dunia ini serta menjaga diri dari hal-hal yang menciptakan murkanya Allah. Ciptakan kehidupan sosial yang berbanding lurus dan seimbang dengan kehidupan spiritual untuk membangun keseimbangan antara umat muslim khususnya para muslimah dengan prinsip syariah di tengah derasnya arus perubahan zaman.

Penulis: Hasna Nabilatushafaa

Editor: Badrul Novis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here