SEMAFSIALAZHAR.MY.ID, Kairo-Jum’at, 8 April 2022 –Pada masa awal didirikannya, masjid al-Azhar dikenal dengan nama Masjid Jami’ Qahirah, hingga pada masa al-Maqrizi seorang tokoh yang wafat pada 845 Hijriyah/1441 Masehi, kemudian berganti nama menjadi Al-Azhar sebagaimana sekarang, nisbah kepada Sayyidah Fatimah az-Zahra, putri Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, atau sebagai nisbah kepada bintang Zahra yang muncul saat penamaan kota Kairo dulu.
Pembangunan masjid Al-Azhar sendiri memakan waktu kurang lebih dari dua tahun tiga bulan, dan selesai pembangunan pada tanggal 7 Ramadhan tahun 361 Hijriyah yang bertepatan dengan 23 Juni 972 Masehi. “Masjid Jami’ Qahirah” diresmikan dengan dilaksanakannya shalat Jum’at pertama kali pada tanggal tersebut.
Dinasti Fathimiyyah mendirikan masjid Al-Azhar tentunya tidak lepas dari beberapa tujuan dan alasan, disamping sebagai tempat peribadatan, barangkali diantara tujuan mereka mendirikan masjid Al-Azhar adalah sebagai berikut:
- Agar masjid al-Azhar dapat difungsikan sebagai masjid raya negara.
- Sebagai wujud keteladan terhadap masjid-masjid yang dibangun sebelumnya, seperti masjid Ibnu Thulun dan masjid Amr bin ‘Ash.
- Sebagai tempat atau sarana pengajaran mazhab Syi’ah Ismailiyah yang pada dasarnya merupakan madzhab resmi Dinasti Fathimiyyah.
- Masjid al-Azhar sebagai pusat untuk menyebarkan dakwah Dinasti Fathimiyyah.
- Untuk menyaingi Dinasti Abbasiyah di Baghdad dan Dinasti Umawi di Kordoba.

Tidak berlangsung lama dari masa berdirinya Al-Azhar, disamping berfungsi sebagai sarana peribadatan Al-Azhar juga sudah mulai difungsikan sebagai semacam Universitas yang mengajarkan berbagai macam disiplin ilmu. Tepatnya pada tahun 379 Hijriyah atau 19 tahun setelah diresmikannya, seseorang yang bernama Ya’kub bin Kalas menyarankan kepada Khalifah kedua Fathimiyyah yaitu Al-‘Aziz Billah agar menjadikan Al-Azhar sebagai tempat menuntut ilmu.
Mulai dari situlah lahir ulama terkenal yang namanya dikaitkan dengan Al-Azhar, yaitu Ibnu Khaldun, Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Sakhawi, Ibnu Taghri Bardi, al-Qalqashandi, Imam Ibrahim al-Bajuri dan ulama-ulama besar lainnya
Rujukan: Al-Azhar Tarikhuhu Wa Tatawwuruhu
Penulis : Rifky Ramadhani As’at


